be_like_bee

Negeri 5 Menara: kenyang spirit…

Posted by: belikebee on: Mei 19, 2010

baru menyelesaikan membaca Negri 5 Menara… matanya jadi melek banget, pengen berbagi lewat tulisan…

sebenarnya sudah lama dengar dari beberapa teman, novel bagus berjudul Negeri 5 Menara, tapi baru tertarik membacanya setelah dikupas di KickAndy episode pekan lalu… setelah titip teman (syukron ya Han), akhirnya jadi juga saya punya novel itu, agak terlambat memang, cetakan pertamanya terbit Juli 2009, buku yang ditangan saya, cetakan ke 4 , januari 2010… tak apa lah…

buku ini menjadi hadiah milad pertama putra pertama kami, Miftah Salam Mumtaz… teman-teman pada ber ‘huuu’ saat saya bilang hadiah saya ya novel itu… mamanya Mumtaz pelit… tak apa lah… kami (saya dan suami) memang membiasakan diri untuk memberi hadiah dalam bentuk buku, kami suka membaca dan ingin mewariskannya kepada si bocah… novel ini akan jadi novel pertama yang dibaca Mumtaz, saat dia mulai tertarik dengan buku-tebal tanpa gambar… semoga memovitasi dia untuk : “MAN JADDA WA JADA”

membaca buku ini membuat saya benar-benar sadar bahwa saya bukanlah orang yang hebat… sering tak maksimal dalam berusaha dan berdoa… sering berkeluh-kesah dengan kondisi yang tak seberapa… dan sekian banyak kekurangan yang saya miliki… hadoh… pegimana ini.. saya iri…

Novel ini berkisah tentang lima orang santri yang bersahabat dalam kehidupan yang berat di sebuah Pondok Pesantren, ya… kehidupan yang berat dengan sekian rutinitas yang harus dijalani selama 24 jam sehari, 7 hari sepekan… bahasa sehari-harinya adalah Bahasa Arab dan Inggris… Bahasa Indonesia tak laku disana… bahkan sampai mimpi pun bahasanya Arab (hihi)…

kehidupan disiplin pondok yang sangat ketat menempa mereka jadi sosok yang tahan banting, menurut saya sangat lengkap, disiplin, kreatif, inovatif, dan modern dengan kepahaman ilmu agama yang diatas rata-rata… iklim belajar yang membuat santrinya kecanduan belajar, setiap saat membawa buku, kamus, atau Al-Qur’an… sekian banyak organisasi dibuat untuk melatih santri menjadi pemimpin… benar-benar sebuah sistem pendidikan yang memadukan imtak dan iptek… novel ini mematahkan asumsi saya sebelumnya, saya sering kali menganggap pondok pensantren adalah wilayah tradisional yang ‘hanya’ tau mengaji…

Novel ini benar-benar sukses membawa saya terbang ke kampung di atas kabut, di pedalaman Ponorogo, seolah ikut hadir dalam setiap aktifitas harian mereka, ikut terbawa deg-degan saat salah-satu tokohnya harus menerima hukuman karena tidak disiplin… ikut larut dalam susah-sedihnya mereka menghadapi ujian (duh.. ujian saya selama ini… jauh lebih ringan), ikut senang saat mereka meraih kesuksesan… dan sesekali air mata saya juga menitik saat ada momen mengharukan… segala rasa deh…

Negeri 5 Menara, membuat saya ingin memutar waktu dan kembali ke masa anak-anak… dan mengalami kehidupan seperti Alif, Raja, Said, Baso, dan Atang… menikmati mimpi, merajutnya, dan tak pernah kalah hanya karena sedikit ujian… mimpi-mimpi indah dibalut kerja keras akan berbuah manis… Novel ini benar-benar inspiratif…

bagian mana yang jadi favoritmu (gaya dora mode on)?

saya suka setiap lembarnya… begitu mengalir dengan bahasa sederhana, namun kaya isi… setelah melahapnya, saya jadi kenyang spirit… jadi kenyang inspirasi… saya suka semuanya… saya menemukan beberapa hal unik dalam cara penulisnya menyampaikan sesuatu… seperti Nama yang bersenandung, atau saat menggambarkan rasa kehilangan seorang teman yang harus pulang sebelum waktunya: “Rasanya aneh sekali, seperti baru selesai cabut gigi geraham. proses membongkarnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu menyakitkan. baru setelah beberapa lama obat kebal hilang… nyeri mulai menghentak-hentak, lalu selama beberapa minggu lidah akan bolak-balik memeriksa rongga yang ditinggal gigi…” sebuah penggambaran yang pas untuk rasa yang aneh karena kehilangan sahabat…

berapa nilai yang saya berikan untuk novel yang best seller ini? hm… agaknya 9 adalah nilai yang pantas untuk novel ini..

baydewey… kira-kira apa saya sanggup berpisah dengan Mumtaz, seandainya dia harus belajar jauh dari saya??

Kotakarang, Rabu 19 Mei 2010 23:57

OBROLAN DI ATAS BUS

Posted by: belikebee on: Februari 2, 2010

Bus yang kutumpangi merayap perlahan keluar Bakauheni tepat jam 22.15. Kursi penumpang terisi penuh. Aku duduk di belakang. Di sampingku seorang bapak dan seorang gadis muda. Dari gerak-gerik dan penampilan, jelas keduanya terbiasa melakukan perjalanan jauh.

“Turun di Rajabasa, mas?” bapak itu bertanya. “Ya.” Jawabku singkat.

“Kalo Mbak?” “Rajabasa juga” “Wah, hati-hati!kalau malam kayak gini Rajabasa menyeramkan. Banyak preman. Mbak sendirian?” Gadis itu hanya mengangguk.

“Apalagi sendirian. Saya saja yang tinggal di Bandar Lampung nggak berani masuk Rajabasa malam-malam. Darah bisa abis dihisep preman.”

“Ya namanya juga terminal, Pak. Agak aneh kalau nggak ada preman di tempat seperti itu.” Seorang lelaki perlente yang duduk didepanku berkomentar.

“Wah, kalau disini lain, Mas. Situ belum pernah ke Lampung ya? Baru kali ini? Preman disini megang penuh Rajabasa. Makanya ngeri.”

“Coba saya tebak. Pasti sering ada pencopetan, penjambretan, para calo yang maksa-maksa, pedagang asongan yang semrawut. Begitu kan Pak?” ujar si perlente kalem. Lalu ia lanjutkan, “Itu mah biasa!”

“Tapi kalau yang dijambret, dianiaya, dicopet, atau diperas itu bukan hanya orang sipil tapi juga tentara, apakah itu juga biasa?” Si bapak sengaja menggantung pertanyaan itu.

“Selama kurang lebih dua puluh tahun saya bepergian, belum pernah saya melihat kondisi terminal seseram Rajabasa.” Aku memang sudah mendengar kabar tentang kondisi terminalnya yang rawan. Orang-orang yang kerap bepergian ke Lampung selalu menyebarkan cerita itu. Sama seperti bapak yang satu ini. Konon, terminal Rajabasa sangat tidak nyaman bagi para penumpang. Aku sendiri belum tahu secara riil. Aku masih menganggapnya wajar. Ya, namanya terminal. Persis seperti pikiran si perlente tadi. Kabar terakhir kudengar segerombolan tentara mengamuk di terminal karena ada temannya yang dipermainkan preman.

“Kawanku hampir mati di sana.” Si bapak kembali cerita. “Dia pulang dari Banten dan tiba di Rajabasa jam 02.00 malam. Begitu turun dihampiri preman-preman bertato. Waktu itu dia berempat. Katanya sih mereka punya ilmu bela diri. Sabuk hitam semua. Tapi waktu diperas para preman itu ternyata tak berkutik. Perut kawanku robek kena badik. Yang lainnya juga sama. Semuanya masuk rumah sakit.”

“Nggak ada yang nolong, Pak?” sela si gadis.

“Kalau malam, Rajabasa itu milik preman. Tidak ada aturan hukum berlaku kecuali hukum rimba. Siapa yang kuat maka dia yang berkuasa. Tak ada yang berani sama mereka. Jangan berpikir ada polisi di situ. Setelah mati baru situ ditengok polisi.”

“Polisinya pada ke mana?” “Ya nggak ada. Paling-paling siang. Itu pun kadang-kadang hanya jadi aksesoris terminal saja. Nyatanya pencopetan tetap ada. Waktu tentara ngamuk di terminal kemarin itu ya bukti semrawutnya Rajabasa. Tentara saja dimainin, apalagi rakyat sipil biasa. Ngomong-ngomong situ mau kemana?”

“Ke Liwa” jawab si perlente “Sebaiknya situ turun di jalan dan cari penginapan. Besok pagi baru ke Liwa. Biar aman.”

“Bapak turun di jalan juga?”

“Iya. Saya nanti turun di lampu merah kali balok. Kalo mau kamu ke rumah saya saja. Rumah saya nggak jauh dari situ. Atau bisa naik taksi ke penginapan”

“Terserah nanti aja lah, Pak.”

*********

Jam di tanganku menunjukan pukul 23.15. Sekitar satu jam lagi bus sampai di Rajabasa. Di luar malam begitu pekat. Sesekali sorot lampu bus memotret pinggiran jalan gelap. Sebagian penumpang lelap tidur. Termasuk gadis muda dan bapak yang disampingku. Sayup lagu yang diputar di dalam bus rupanya membius para penumpang. Entah apakah tidur beneran atau sekedar tidur ayam. Suasana amat hening. Hanya raungan mesin bus yang terdengar. Suasana mulai riuh ketika para penumpang terbangun karena ban mobil pecah. Untung bus masih bisa dikendalikan. Sembari menunggu ban mobil diganti, sebagian penumpang keluar dari bus. Ada yang sekedar merokok atau menghilangkan pegal.

“Kalau begini, kusarankan para penumpang tidak turun di terminal Rajabasa” si bapak itu kembali berucap. Ia beralih ke posisi barisan depan sembari menatap para penumpang.

“Ada yang mau turun di Rajabasa?” ia mengawasi penumpang.

“Saya turun di Rajabasa.” Seseorang menjawab.

“Situ turun di Rajabasa? Udah tau resikonya?”

“Saya tahu. Tapi saya harus naik mobil dari Rajabasa. Saya harus cepat ke rumah, ibu saya di Liwa sakit keras.”

“Saya juga harus turun di Rajabasa.” Si Gadis muda menimpali. “Saya harus sampai di Pringsewu malam ini.”

“Tapi Rajabasa rawan. Resikonya besar. Pikirkan lagi” Untuk beberapa jenak hening. Gumaman halus para penumpang terdengar.

“Saya juga turun di Rajabasa.” Si perlente ikut bicara. “Saya kira kita bisa aman kalau banyak yang turun di Rajabasa. Kita bisa barengan. Masih ada yang mau turun di Rajabasa?” si perlente berdiri. Matanya menatap para penumpang.

“Ya. Kalau bareng-bareng kita aman. Hitung saja berapa orang yang mau ke Rajabasa!” Seseorang menimpali. Setengah penumpang bis ternyata mau turun di Rajabasa.

“Baik kalau begitu. Nanti kita turun di Rajabasa rame-rame.” Si perlente terlihat yakin.

“Saya bukan nakut-nakutin. Sebulan lalu empat kawan saya hampir sekarat di Rajabasa. Dua minggu lalu, dua tentara juga jadi korban pemerasan. Padahal mereka bawa pistol. Dan perlu diingat, Rajabasa di malam hari penuh dengan preman. Saudara pasti tahu cerita tentang mereka. Saran saya, lebih baik turun di jalan dan cari penginapan dari pada cari masalah disana”

Si Bapak kembali duduk setelah berucap. Orang-orang terdengar bergumam. Mereka yang tadi hendak turun di Rajabsa sepertinya masih ragu. Masing-masing terlihat asyik dengan pikirannya. Bis kembali berjalan. Sesaat kemudian para penumpang kembali senyap dengan mimpi masing-masing. Mendekati tepian Bandar Lampung, kernet mulai mengingatkan penumpang untuk bersiap. Penumpang yang tertidur dibangunkan. Barang-barang pun dikemas.

“Mas, jadi turun di Rajabasa?” si Bapak kembali bertanya

“Iya, Pak! Saya ada yang jemput” jawabku singkat.

“Ya, syukurlah kalau begitu. Hati-hati aja jangan sampai lengah! Mbak ini jadi turun di Rajabasa?”

“Lihat nanti saja, Pak. Kalau banyak yang turun disana saya ikut juga”

“Lebih baik kamu cari penginapan. Lebih aman kalau jalan besok. Lagian jam segini mana ada mobil yang ke Pringsewu. Turun bareng saya saja. Nanti kamu naik taksi ke penginapan.”

“Tapi…”

“Nyawa lebih penting, Mbak!” Si gadis terdiam. Keraguan nampak diwajahnya. Bus tetap berjalan. Menembus malam pekat.

“Mohon maaf para penumpang. Setelah dipertimbangkan saya turun di jalan saja. Saya mau cari penginapan dan melanjutkan perjalanan besok” Si perlente bicara agak keras.

Penumpang yang tadi hendak turun di terminal berbisik-bisik. “Pak, saya ikut turun bareng bapak saja ya?”

Si perlente berkata pelan. “Ya, sudah. Mbak ini gimana?” “Saya turun bareng bapak juga”

Si gadis segera mengemas barang. “Nah, saya turun di lampu merah itu”

Lalu satu persatu para penumpang turun di jalan. Tidak ada lagi penumpang yang ngotot mau turun di Rajabasa. Kecuali aku tentu.

“Turun di mana, Mas?” Tanya kernet

“Rajabasa” Kujawab singkat.

Kernet itu hanya diam. “Kami nggak nanggung ya kalo terjadi sesuatu sama Mas” Sopir menimpali.

Aku hanya mengangguk. Sebegitukah ketakutan orang terhadap terminal Rajabasa? Sampai Sopir sendiri sampai merasa perlu memberi peringatan. Jam 01.15 bis tiba di terminal Rajabasa.

“Hati-hati, Mas!” Untuk terakhir kalinya sopir mengingatkan. Kusulut sebatang rokok. Tercipta asap. Kulangkahkan kaki keluar bis. Pandanganku menyebar ke segala arah. Setiap sudut kuawasi. Kios-kios kecil masih buka. Semua tampak normal. Dari tempat yang remang sekelompok orang kulihat mendekat. Ada tujuh orang. Badannya kekar-kekar dan bertato. Aku tak beranjak.

“Selamat datang di Rajabasa, Bang. Kami kira nggak jadi datang!” seorang dari mereka menyapaku. Di dahinya ada bekas jahitan. Lengannya yang kekar penuh tato.

“Hmmh! Ban mobil pecah di jalan.” Kuikuti langkah mereka ke sebuah kedai minum. Mereka duduk mengitariku.

“Nih. Oleh-oleh dari jalan.” Kuhampar bungkusan plastik yang kubawa. HP si perlente, jam tangan si bapak, dompet si gadis, serta lima lembar uang seratus ribuan ada didalamnya. Malam itu kami berpesta.

Oh, iya. Namaku Bram. Orang-orang menyebutku Hercules, preman Tanah Abang.

cintaku… dari waktu ke waktu (3)

Posted by: belikebee on: Maret 10, 2009

ini cintaku usia 19 pekan, sudah semakin besar, beratnya sekitar 600 gr, dengan panjang 15 cm, sudah tak muat lagi di foto, kalo mo liat kakinya kepalanya ga keliatan, begitu juga sebaliknya… hehe…

gerakannya semakin terasa, kalo sebelumnya masih samar, sejak usianya 18 pekan, mulai terasa dengan jelas… aktif sekali anak ini, sampai dokter kewalahan saat mo ngambil fotonya…  anak siapa dulu…

19-pekan1

gambar ini diambil tgl 12 januari 2009

sehat dan kuat ya cinta…

cintaku… dari waktu ke waktu (2)

Posted by: belikebee on: Maret 10, 2009

nah.. yang ini udah mulai kelihatan jelas ya… pipinya gembil, lucu banget, liat foto ini, temenku menjulukinya Beruang madu… soalnya masih 4 bulan udah keliatan endhut…15-pekan

foto ini diambil tgl 12 desember 2009, saat usianya 15 pekan, tak berapa lama lagi, cinta akan ditiupkan ruh ke jasadnya…

jadilah anak sholeh ya nak…  :)

cintaku… dari waktu ke waktu (1)

Posted by: belikebee on: Maret 10, 2009

cintaku usia 11 pekan, baru mula kelihatan  bentuknya, rada2 mirip alien ya hehe, apalagi usgnya cuma yg 2 dimensi, jadi yang muncul cuma siluet aja… gambar ini diambil tgl 10 november 2008

11-pekan

dr yanah, selalu memintaku untuk menanyakan apa saja seputar kehamilan ku, tapi melihat sosok mungil itu… saya jadi kehilangan kata2, ga bisa nanya apa2… giliran udah di jalan baru deh kepikiran… lha tadi kan mo nanya ini itu… ah, cinta memang bikin kita jadi lupa daratan…

belum bertemu saja rasa cinta itu sudah begitu besar… i luv u cinta…

kangen menulis…

Posted by: belikebee on: Maret 10, 2009

lama bener rasanya saya tidak menulis… jadi kangen menuangkan pikiran lewat tulisan…

18 bulan menjalani hari2 penuh tugas di msi ugm, membuat saya mau tak mau sejenak meninggalkan hobi saya yang satu ini… kalah sama review artikel… hehe

dulu, saya bisa sangat produktif, sepekan bisa ada 2-3 tulisan yang saya posting di blog ini, kadang jika ide itu muncul, saya bisa-bisa tidak bisa tidur, ide-ide itu berlompatan dari pikiran ke tust keyboard laptop saya, kemudian tak lama jadilah tulisan… yang bila nasrcis saya lagi kumat… bisa membuat saya terkagum-kagum sendiri… hehe…

saya akan menulis, manulis, menulis… dan menulis sepanjang hidup saya.. insyaAllah…

tunggu postingan saya ya… *_^

Posted by: belikebee on: Agustus 13, 2008

lebih dari 5 waktu aku mengingatmu…
terkadang dengan bulir air mata yang mengalir
terkadang dengan isak tangis yang tertahan….
namun…
tak jua kutemukan muara cinta itu selain pada keikhlasan….

:  ajari aku…

Kadaluarsa

Posted by: belikebee on: Agustus 11, 2008

You’ll die. I’ll die. Amoeba will die. Even Earth is dying.
I wish we were all born with an expiry-date tag stapled to our butts so we know how much time left for us to talk all this nonsense. Unfortunately, we weren’t. Maybe that’s why so many of us waste our precious time on Earth scrutinizing and judging somebody else’s business.

Though I cannot see my expiry-date tag, I can feel that my time is not enough to discuss with the word “kadaluarsa”. Dari observasi saya, sepertinya banyak sekali orang yang “korslet” dengan kata itu. Dan karena jerat bahasa dan kata ini, pengamatan kita sering dibuat melenceng. I don’t know what’s the real issue, tapi agaknya kata “kadaluarsa” dianggap menurunkan derajat kita menjadi makanan atau produk pabrik. Dan kita, manusia serba luhur ini, yang mengenal konsep agung semacam Cinta dan Tuhan, tidak layak dituduh punya jadwal kadaluarsa. Kita begitu terobsesi jadi abadi, atau setidaknya “memiliki” sesuatu yang abadi. Padahal jika kita jeli, segala kondisi dan fenomena akan berakhir. Tidak ada yang tetap. I don’t even think we *own* anything in the first place, even though we’d like to believe otherwise. Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food. We’re so edible. Ask Sumanto. *_^

(from ~D~)

Pangeran Kodok…

Posted by: belikebee on: Juni 16, 2008

Awalnya ketika sedang dalam masa khitbah dan menunggu 2 Juni 2007 tiba, rasanya risih sekali saat harus menyebut nama seorang calon suami… jadi saat saya membahasakannya pada keluarga maupun teman-teman biasanya saya menyebutnya “si Bapak”… kebiasaan saya itu berlanjut sampai kurang lebih selama satu bulan pernikahan… meski kemudian kami sepakat menggantinya dengan sebutan “Abang”… perlu waktu bagi saya untuk membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan baru itu…

Tapi… sesekali saya juga memanggilnya dengan sebutan Pangeran Kodok… kebiasaan itu berawal ketika saya mulai berani membuka agenda di ponselnya… saya ingin tau apa yang dia tuliskan untuk memberi tanda pada hari bersejarah bagi kehidupan kami… ternyata dia menuliskan…

Pernikahan Pengeran Kodok dengan…

saya tersenyum… jadi teringat dengan dongeng masa kanak-kanak tentang seorang pangeran tampan yang dikutuk menjadi kodok… yang akan kembali menjadi pangeran jika ada seorang wanita yang menciumnya… saat tiba-tiba terbersit dalam benak saya… “kok pangeran kodok yang ini ga kunjung berubah jadi pangeran… ” senyum saya berkembang menjadi tawa…

“pangeran kodok… kok kodoknya ga berubah jadi pangeran… padahal sudah dicium???” laki-laki dengan spektrum karakter itu menjawab dengan santai… “soalnya yang cium si kodok itu juga bukan puteri… ” gubrax… wakakaka…

walah… kena saya… jadi inget kisahnya shrek… :D

Who should I give my love to?

Posted by: belikebee on: Juni 11, 2008

Who should I give my love to?
My respect and my honour to?
Who should I pay good mind to – after Allah,
And Rasullullah?
Comes your Mother,
Who next? Your Mother
Who next? Your Mother
And then you Father

Cause who used to hold you
And clean you and clothe you?
Who used to feed you
And always be with you?
When you were sick, stay up all night,
Holding you tight?
That’s right no other, your Mother

Who should I take good care of,
Giving all my love?
Who should I think the most of – after Allah
And Rasullullah?
Comes your Mother,
Who next? Your Mother
Who next? Your Mother
And then you Father

Cause who used to hear you
Before you could talk?
Who used to hold you
Before you could walk?
And when you fell, who’d pick you up?
Clean your cut?
No one but, your Mother, my Mother

Who should you I right close to?
Listen most to?
Never say no to – after Allah
And Rasullullah?
Comes your Mother,
Who next? Your Mother
Who next? Your Mother
And then you Father

Cause who used to hug you
And buy you new clothes?
Comb your hair and blow your nose?
And when you cried who wiped your tears?
Knows your fears? Who really cares?
Your Mother

Say Alhamdulillah,
Thank you Allah
Thank You Allah for my Mother

diambil dari nasyidnya Yusuf Islam… your Mother

(thanks to Ninuk dewi… yg sudah mendengarkan dengan baik dan menuliskannya)

day 2 day

Januari 2012
M S S R K J S
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Blog Stats

  • 4,750 hits

blogroll

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.