be_like_bee

Amplop Kosong-ku

Posted by: belikebee on: November 13, 2006

“Permisi Bapak-Ibu yang terhormat, maaf mengganggu perjalanan Anda sejenak” sebuah suara menembus kepadatan penumpang bus. Tak lama kemudian sesosok tubuh dekil mengeluarkan suara yang lebih mirip gumaman, ngakunya sih menyanyi tapi… saat kutajamkan pendengaranku… aku ga berhasil menangkap nadanya… fals, sumbang, tanpa melodi… bocah perempuan berusia sekitar 7 tahunan itu menggunakan kecrekan yang terbuat dari tutup botol yang dilempengkan, bila digerakkan mengeluarkan suara gemerincing tutup yang saling beradu… yang bunyinya ga kalah cempreng dibandingkan suaranya… apalagi… alamak… lagu yang dibawakannya lagu dewasa yang mengisahkan percintaan… aduuuh bener benar mengganggu…

ada-ada saja cara manusia bertahan hidup… ada yang murni sebagai pengemis, ada yang ngakunya menjual suara meski jauh dari merdu, ada pula yang bersembunyi dibalik surat tugas panti asuhan yg entah berada dimana atau panitia renovasi masjid yang (mungkin) juga fiktif.

Di Lampung, cara yang mereka gunakan masih konvensional, hanya menegadahkan tangan sambil berguman tak jelas “sedekah pak… bu… “, tapi kalo di kota besar seperti jakarta… jangan di tanya… segala cara deh… dari yang segera berlalu saat kita menggeleng sampe yang ga pergi sebelum bungkus bekas permen mereka kita isi, bahkan kadang ada pula yang memaksa dan mengeluarkan kata-kata yang tak enak dikuping. Jujur, aku suka kesal dengan mereka, apalagi kalo terlihat masih muda, segar-bugar tanpa cacat… ga bisa cari penghidupan yang lebih terhormat apa???

sabtu pekan lalu, aku kembali menjumpai mereka, dalam perjalanan menjenguk nenek yang tinggal bersama paman di Cikande Serang. Kali ini, ada tamparan halus kurasakan. Ceritanya siang itu, selepas fery bersandar di dermaga Pelabuhan Merak, aku mencoba berpetualang… biasanya aku menggunakan bus AC jurusan Merak-Kp Rambutan, kalo mujur bus akan ‘transit’ sejenak di Terminal Pakupatan Serang… tapi kalo lagi sial… pak Supir bakalan tega nurunin penumpang di Jalan Tol… kebayang deh bahayanya… makanya kali itu, aku mencoba jalan yang tidak biasa, naik bus jurusan Merak Serang yang katanya… finishnya di terminal Pakupatan… aku pikir ga ada salahnya di coba…

Bus yang aku tumpangi ngetem cukup lama, sebenarnya semua kursi telah terisi, tapi… mana mau bus berangkat kalo belum penuh sesak… cuaca ga mendukung, apalagi busnya tanpa AC, puanas luar biasa, … kulit wajah terasa perih… keringat segede2 jagung… penumpang mulai menggerutu… aku??? ikutan ga sabaran…

Karena jengkel kelamaan menunggu, pemuda disebelahku tiba-tiba berteriak, “jalan pir” mengagetkan penumpang lain, apalagi aku… suaranya lumayan kenceng “Ayo jalan, tunggu apa lagi? sudah penuh ini…!!” suara kerasnya membentak… aku (cuma berani) melirik… hmmm pantes… postus tubuh tinggi besar, kulit gelap, dengan wajah dan suara khas, aku bisa menebak sukunya, apalagi ada tatoo di lengannya… preman nih orang… makanya berani… si sopir yang dibentak cuma melengos… kemudian mulai menggoyang mobil, sebatas memainkan gas dan rem, masih berharap beberapa penumpang lagi…

Akhirnya bus menggelinding, namun bersamaan dengan itu, sesosok tubuh mungil ikutan naik. pengamen cilik. Dia berdiri tak jauh dari tempat dudukku, sehingga aku dapat mengamatinya dengan jelas, usia sekitar 8 tahun, baju dan celana yang ga jelas lagi warnanya, menenteng setumpuk amplop yang sama dekilnya. Menatap mata bocah itu, pikrianku melayang, kemana orang tuanya??

Tiba2 tangannya terulur, menyodorkan amplop yang dipegangnya… sejenak aku terpana membaca tulisannya “Bapak dan Ibu yang budiman, saya pengamen jalanan, butuh uang untuk biaya sekolah. orang Tua saya tidak mampu, berilah bantuan untuk melanjutkan pendidikan, terima kasih” lumayan kreatif, meski di tulis dengan tulisan tangan yang jauh dari rapih, di fotokopi dan ditempel di bagian depan amplop… aku memandang matanya yang bening, gamang, sering kali kudengar eksploitasi yang dilakukan terhadap mereka, hasil mengamen harus disetorkan kepada preman yang menguasai mereka… artinya uang yang ‘akan’ aku berikan ga murni buat mereka…

menurutku, memberi recehan kepada mereka, berarti mengajarkan kebiasaan mengemis. Bila mereka merasa mudah medapatkan uang dengan mengemis, bukankah sama saja menjerumuskan mereka?? Entahlah, perasaan kesal dan kasihan silih berganti mendominasi hatiku saat bertemu dengan salah satu dari mereka, jika rasa kasihan yang menang, maka akan kusodorkan recehanku, namun jika rasa kesal yang menang, aku akan pura2 tertidur, atau menggeleng seraya melempar pandangan keluar bus… sekarang… apa warna perasaanku??

Terbit ragu, antara kasian dan gundah. ehm… daripada bingung, mending ga usah deh… putusku… tapi Eits… tunggu dulu, sudut mataku menangkap gerak lelaki di sebelahku membuka dompetnya. beberapa lembar ribuan, berpindah dari dompet ke amplop… aku terpanga, melongo… biasanya hanya recehan yang terulur…

Si bocah ternyata telah memungut kembali amplopnya, tanpa menyanyikan satu lagupun, pantas cepat… amplop kosong (aku belum ’sempat’ mengisinya) dipangkuanku diambil, demikian pula amplop si preman berhati…

ah… malu aku, ternyata tampang sangar itu memiliki kepekaan yang lebih dariku, ketika aku sibuk berhitung, ia justru langsung memberi. sedekahkupun lebih sering hanya recehan, sekedar memberi. meski aku tau, sangat tau bahkan, betapa kecilnya nilai seratus, dua ratus, atau lima ratus tersebut. Sementara laki-laki itu, memberi beberapa ribuan dengan ringan…

Malu sama jilbab yg berkibar-kibar, malu sama isi tausiyah yang sering kusampaikan pada binaan dikampus, malu sama para sahabat yang selalu memberi sebelum diminta, dan berlomba-lomba saat menginfaqkan harta, malu sama Alloh, mungkin di Atas sana tertawa melihat hambanya yang naif ini. Bagaimana mungkin membeli syurga dengan recehan???

Senin, 13 November 2006 12:15 AM
semoga tanganku selalu terulur…

Tinggalkan Balasan

day 2 day

November 2006
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 4,041 hits

blogroll