Posted by: belikebee on: November 27, 2006
Bapak adalah baby sitter-ku, coz ibu mulai bekerja saat aku bayi, dan pekerjaan bapak yang tanpa jadwal membuatku benar-benar jadi anak bapak
perkataannya adalah fatwa, ga ada yang berani membantah (waktu kecil), selanjutnya perkataannya adalah pernyataan terbuka yang selalu jadi bahan diskusi seluruh anggota rumah
Bapak seperti Lukman Hakim yang bijak mengajari anaknya untuk jangan pernah menduakan Allah… orang paling berjasa memperkenalkan Alloh kepadaku, mengajariku menyembahNya, dan mengeja ayat-ayatNya, dan tega menghukum dengan tegas setiap kali aku lalai
aku tau bapak selalu bangga padaku, meski ia hanya mengatakannya didepan teman-temannya… dan aku tau dia semakin bangga padaku
bapak selalu menentukan pilihan bagiku setiap kali aku dihadapkan pada pilihan, (meski selalu kutolak awalnya) dan pilihannya selalu benar
bapak tipe pembelajar sejati, telaten, dan kutu buku, meski ga punya ijazah apapun, dia fasih berbahasa asing
bapak punya segala jenis perkakas di kotak peralatannya, kecuali perkakas yang dibutuhkan untuk memperbaiki yang sedang rusak
Bapak tampil sebagai bapak yang galak dimataku, tapi menurut teman-temanku bapak tipe penyayang
Bapak tau bagaimana mendorong ayunan yang cukup tinggi tapi tak membuat aku takut
Bapak membuatku percaya bahwa dia memegang sadel sepedaku, hingga aku berani meletakkan kaki di pedal… dan merasa dia tetap memegangnya meski aku telah mengayuh sepedaku jauh meninggalkannya
Bapak selalu mengulang-ulang cerita tentang bagaimana aku tak bisa lepas darinya, bahkan saat dia sholat, aku ikutan sholat dalam gendongannya
Bapak menyimpan batik yang kubeli dengan gaji pertamaku, dan memakainya di dari wisudaku…
Bapak ‘mengajariku’ cara-cara laki-laki, mencukur rambutku, membelikan pakaian2, dan mainan khas laki-laki, sampai dia menyadari ternyata aku tak lulus ujian menjadi laki-laki
tempat duduk paling istimewa adalah pundak bapak
Bapak selalu memeriksa penampilanku, pakaian, sepatu, dan mengulang sisiran rambutku (sampai aku berjilbab)
Bapak sangat terkejut (bahkan lebih terkejut dari aku) dan tak bisa terima, ketika aku masih ESDE ia menemukan beberapa uban tumbuh dikepalaku, dan bela-belain hunting mencari obat untuk membuatnya hitam kembali… dan memaksaku tunduk patuh saat dia mengoleskan obat itu dikepalaku… dan akhirnya sembuh…
Setiap kali bertengkar dengan bapak, selalu dia yang meminta maaf padaku sebelum aku sempat … (nakalnya aku ini)
Melakukan perjalanan dengan bapak sangat menyenangkan, kita tak akan kelaparan, karena dia paling tau tempat makan enak, murah, dan bersih
Bapak itu murah hati, dia bersedia menyerahkan guling yang baru dibelinya, saat aku tau guling itu lebih empuk dan rela menukarnya dengan guling tua milikku…
telepon adalah musuh utamanya, jika masih ada orang lain dia akan membiarkan telepon tetap menjerit, menurutnya telepon mengganggu privasinya, mencuri anak-anaknya, dan menguras kantongnya
mendengar bentakan kerasnya jauh lebih menyenangkan daripada harus melihatnya berdiam diri dalam marahnya
jangan coba-coba menghilangkan barang berharga miliknya (sisir, cermin kecil, dan gunting rambutnya), kau tak akan selamat sebelum membuatnya melihat barang-barang tersebut tenang ditempatnya
Bapak mencatat setiap moment berharga, kelahiran anak-anaknya, penjelajahannya, kesuksesan, dan harapannya (sepertinya menurun padaku…) di blog notenya (aku baru tau setelah membongkar ‘brankasnya’), dan menemukan betapa dia sangat mencintai keluarganya … dengan bahasa yang berbeda…
Bapak selalu siap sedia jadi pengantarku bahkan saat harus nyubuh keluar rumah karena kuliah pagi, dan selalu kubuat menunggu setiap kali dia menjemputku… baiknya bapakku
Bapak tidak pernah tersenyum, dia hanya punya tawa yang keras,dan akan dikeluarkannya setiap kali aku menceritakan hal-hal bodoh yang kulakukan…
setiap kali aku berpamitan, Bapak hanya mau disalami, dia anti dipeluk … karena kalau ia memeluk, mungkin tak akan bisa melepaskannya
Bapak hobby menonton tinju, editorial media indonesia, dan tak pernah ketinggalan berita
Bapak pemerhati teknologi, meski butuh waktu untuk mengajarinya mengoperasikan telepon genggam…
“hati-hati, jangan nerobos lampu merah, liat2 spion, jangan lupa pasang lampu sein, kunci motormu… periksa SIM/STNK” pesannya selalu setiap mengantarku beraktifitas dan tak mengalihkan pandangannya sebelum melihatku benar-benar hilang di ujung jalan
saat di dapur bersamanya membuat memasak menjadi sebuah penjelajahan ilmiah, berinovasi, dan percobaan bumbu masak… rasanya… jangan ditanya…
dia selalu memuji “masakan mba, hari ini top… ” aku semangat, meski aku bisa mengecap rasa tak karuan dari masakanku
Bapak akan berkata “tanya aja ama ibu…” jika ia tidak ingin berkata “tidak”
Bapak ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun -dan selalu membutuhkannya
Bapak lambat mendapatkan teman, tapi bersahabat seumur hidup… ia tidak akan membatalkan janji dengan sahabatnya
Bapak benar-benar membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan
Bapak bertangan dingin, tumbuhan apapun yang ditanamnya tumbuh subur, berbuah lebat dan rimbun
bapak adalah orang paling optimis menghadapi kehidupan… bahkan saat akan masuk ruangan operasi… dia berkata… “JANGAN MENANGIS… bapak akan sembuh…”
ditinggal pergi bapak, seolah ada bagian hidupku yang ikut pergi… tapi aku sadar… ia tak pernah pergi, dia selalu di hati…
Bapak… I miss u … much
(sambil denger MP3 Yang terbaik bagimu-nya Ada Band, Kenangan bersama ayah-nya ESPE… ternyata lagu tentang ayah tak sebanyak lagu tentang ibu…)
Senin, 27 Nov 06, 22:35
Komentar Terakhir