Posted by: belikebee on: Desember 13, 2006
Naik panggung tanpa persiapan, turun panggung tanpa penghormatan… hehe… pernah merasakannya?? saya pernah… mengajar tanpa menyiapkan bahan ajar… ga sempet baca buku… rasanya 100 menit berada di ruangan eksekusi… panas dingin padahal ber-AC… duduk ga enak, berdiri apa lagi… jadi yaaa… hanya mengandalkan ingatan yang pas-pasan… plus pura-pura mengalihkan ke mahasiswa yang lain jika ada yang bertanya… dengan harapan ada diantara mereka yang bisa memancing ingatan saya… dengan harapan mereka tak menyadari ketidaksiapan saya… kapok deh… kagak lagi-lagi…
Saya jadi teringat ada sebuah film yang membuat dari naluri ‘guru’ saya tergugah… ‘Monalisa’s smile‘, film lama memang… sekitar akhir th. 90an… tapi jadi baru buat saya… soalnye belum pernah nonton… filmnya bercerita tentang seorang ibu guru yang bernasib seperti saya diatas… ga sempet nyiapin kuliah, sementara muridnya pinter-pinter… tapi kemudian ia berubah menjadi guru yang tidak biasa, berusaha mendobrak kebiasaan kuno di sebuah sekolah khusus perempuan… (saya lupa nama sekolahnya)… ceritanya lumayan penuh misteri seperti senyumnya Monalisa… agak membuat kening sedikit berkerut… kudu pake mikir… meski yaa… maklum aja… mana ada sih film produksi Amrik yang bersih dari adegan yang membuat saya harus menutup mata… hihi … malu…
Film ini membuat saya teringat beberapa film asing lainnya yang juga menjadikan figur guru luar biasa sebagai tokoh utamanya … setidaknya ada 2 film lain yang pernah saya tonton… Dead Poem Society diperankan aktor kawakan Robin Williams dengan seting Bording school khusus Putra … dan Mahobbatein… diperankan oleh Sakhrukh Khan (pilem India… boww) ceritanya hampir mirip meski dengan ending yang berbeda
Kali ini saya bukanlah ingin membedah ke-3 film tadi… film-film asing itu membuat saya berusaha memeras ingatan… adakah film Indonesia yang menjadikan guru sebagai tokoh utamanya?? dan sampai saya menyelesaikan tulisan ini… saya ga berhasil menemukannya… kalo ada plizz tulung diinformasikan… referensi per-film-an saya dikit banget…
hmm… berbicara tentang guru, rasanya kita bicara tentang sosok yang bijak, ramah, penuh senyum, dan tau segalanya… (bener ga??)… itu sosok idealnya… tapi sepertinya hanya sedikit sekali diantara mereka yang benar-benar menjadi pendidik, yang saya ingat… guru saya waktu es-de galaknya minta ampun… hoby-nya membentak dan selalu siap dengan penggaris untuk menghukum anak nakal (yang umumnya anak laki-laki)… barangkali mereka lelah, satu orang guru menghadapi 40-50 orang murid satu kelas, umumnya mereka mengajar 2 shift… ditambah kemampuan murid yang pas-pasan serta orang tua yang benar-benar menyerahkan anaknya bulat-bulat… apalagi… berapalah gaji guru es-de??? seingat saya ibu saya yang guru es-em-pe gajinya ditahun 80an hanya … (rahasia lha ya…) pokoknya kuraaang banget …
Adakah guru yang ‘beda’?? jawabnya ada… namanya ibu Halimah, sosok yang jadi guru saya dikelas 4 SD ini biasa menyulap suasana kelas menjelang pulang, menjadi arena Cerdas Cermat… kami dididik berkompetisi, beliau selalu menyediakan hadiah kecil-kecilan bagi yang juara, jika dia tak sempat, maka rewardnya adalah yang bisa menjawab boleh pulang duluan… hehe… sering kali saya pulang duluan, tapi saya selalu menunggu di pintu, dan tetep ikutan jawab pertanyaan jika ga ada temen saya yang bisa menjawabnya… hehe bahagianya waktu itu…
Selanjutnya saat saya kelas 6, ada seorang guru yang merubah matematika sebagai pelajaran yang menyeramkan menjadi menyenangkan… Pak Sitohang namanya tapi kami punya panggilan khusus… pak guru Batak, dia mengajar matematika di seluruh kelas 6… bayangkan!!! Tapi dia selalu mengajar dengan sabar, paling2 dia hanya tersenyum maklum dengan keawaman kami dengan operasi matematika, dan selalu sukses membuat kami berteriak ..”EUREKA” … heran bisa ya… bapak2, guru matematika, orang batak pula… tapi kok sabar… bah… macam mana pula ini… hihi… Pak guru Batak ini meletakkan fondasi matematika yang bagus bagi saya, yang berasal dari keluarga yang sosial banget… hasilnya?? saya jadi orang terpandai matematika dirumah… ^__* dan tentu saja berguna bagi bidang ilmu yang saya geluti saat ini… akuntansi…
Selebihnya??? guru-guru saya adalah ordinary teacher… guru2 biasa banget… sekedar menggugurkan kewajiban mengajar, sekedar menghabiskan jam, memberi tugas, menghukum… bla…bla..bla.. semua lewat saja…
Mendidik dan mengajar adalah panggilan jiwa, Meski ada sekolahnya, menjadi guru… tetaplah membutuhkan bakat, ditambah ilmu yang bisa dipelajari, jadi guru butuh juga rasa cinta terhadap profesi… , membutuhkan kesabaran seluas samudera dan rasa sayang yang tak pilih kasih pada semua muridnya… hmmm berat ya…
Terlebih penghargaan yang diterima oleh seorang guru, dengan tunjangan yang hanya berbeda 50rb dengan pegawai lainnya, sementara harus membawa pulang pekerjaan, mengoreksi, menyiapkan bahan ajar, menulis buku laporan.. weleh-weleh… gocap tambah gocap… cepe’ deh…
Karena itu… sejujurnya guru adalah pekerjaan yang paling akhir yang ingin saya pilih menjadi profesi… meski lahir dan dibesarkan oleh seorang ibu guru, dan tau pasti guru adalah profesi yang mulia, hingga mendapat gelar “pahlawan tanpa tanda jasa“… tapi … gimana ya… barangkali sosok guru yang terekam dibenak saya adalah sosok ‘Umar Bakrie‘-nya Iwan Fals… hehe… “jadi guru jujur berbakti memang makan hati… ” gitu katanya… (saya berusaha mengingat-ingat syairnya… kalo salah maap ye bang Iwan), saya maunya bekerja dibelakang meja, sibuk dengan laporan keuangan perusahaan, kertas-kertas kerja… atau dengan software-shoftware komputer dan sistem informasi… sepertinya sangat menyenangkan…
Tapi… itu dulu… taqdir Alloh berbicara lain… atau … mungkin saya kualat kali ye…(:D) saya pernah ‘terluka’ dengan perkataan seorang dosen yang nyelekiiit banget, waktu dia jadi penguji saat saya kompre…sangking sebelnya… saya mengeluarkan kata-kata begini… “kalo saya jadi dosen… saya ga mau seperti ibu itu…” hehe… kesampean deh… yaaa… meski kadang saya suka lupa kalo guru dan dosen itu sama… soalnya… rasa-rasanya menjadi dosen ga seberat menjadi guru. Dosen menghadapi manusia-manusia dewasa yang setidaknya ada sekian % dari mereka yang sudah memiliki visi hidup, hingga belajar menjadi kebutuhan bagi mereka… sementara guru… apalagi guru di pendidikan dasar… benar-benar mulai dari NOL… membantu memberi warna bagi murid2nya, membantu menemukan bakat-bakar terpendam mereka, dan membantu menemukan jati diri… puih… berat pisan…
Saya menaruh harapan yang besar dengan disahkannya UU bagi Guru dan Dosen, angan-angan saya segera terbang ke empat tahun kedepan… saat guru dan dosen sudah disertifikasi, tak akan ada lagi guru yang nyambi jadi tukang ojeg atau tukang kredit… (hihi), juga tak akan ada lagi gaji guru yang mins karena dipotong sana-sini… (hiks hiks..), saat itu… semua guru akan benar-benar bermetamorfosis menjadi sosok-sosok seperti tokoh-tokoh di film tadi… insyaAlloh… semua itu menjadi sebuah keniscayaan…
sekarang saya sedang berusaha menjadi pendidik yang tidak biasa, seperti tokoh-tokoh di film tadi… saya belajar sabar, balajar lebih bisa menghargai anak didik saya… hingga saat mereka menyelesaikan pendidikannya, mendapat pekerjaan, atau sukses dengan usaha yang mereka geluti… ada lah 1-2% peran ilmu yang bermanfaat dari saya… hingga saat saya dipanggil menghadap yang Maha Kuasa… saya memiliki amal yang tak pernah putus karena ilmu saya dimanfaatkan oleh murid-murid saya… membayangkan itu… saya jadi tersenyum… dan semoga senyum saya selalu terkembang…
doakan saya selalu ya…
Komentar Terakhir