be_like_bee

ijinkan aku menjadi IBU

Posted by: belikebee on: Desember 22, 2006

Akhir-akhir ini, entah mengapa saya jadi sedikit melankolis, apa-apa saya inget sama Bapak, liat anak perempuan di jalanan yang dibopong ayahnya… saya iri, inget Sabrina, anak seorang teman saya bercanda-canda dengan Abinya, saya iri. Bahkan sama Simba, singa kecil di film Lion King, yang punya kedekatan khusus sama ayahnya, Mufasha yang raja hutan itu… saya iri… bahagianya masih punya ayah…

Tapi kalo saya pikir-pikir, sebenarnya sifat iri, bukan hal yang baru bagi saya, beberapa tahun yang lalu, saya pernah iri pada Toto Chan, seorang anak ‘nakal’ padahal kreatif yang sempat DO dari sekolahnya (read more… Toto Chan, Gadis Kecil di Jendela, karya Tetsuko Koburoyanagi), yang punya masa kecil yang demikian luar biasa padahal lahir di awal perang dunia 2, di sebuah kota di Jepang. Saya iri, ingin juga punya masa kecil seperti dia, belajar apa yang dia sukai, dan tak menyadari bahwa ia bahwa di bekas gerbong kereta itu… ia bersekolah (sesuatu yang menjadi momok bagi anak-anak).

Dan hari ini, kebiasaan iri saya itu kembali terjadi… tapi kali ini tak hanya sebatas iri, tapi… teramat sangat merasa iri (berlebihan ya? biarlah…) pada karunia yang luar biasa yang hanya bisa di rasa oleh seorang IBU…

Meski alergi jika membaca buku-buku tentang pernikahan,
(Tengok saja koleksi pustaka saya, tak satupun yang berjenis buku pernikahan. Bisa jadi ini dampak dari kejadian bertahun-tahun yang lalu saat saya di Jogja, waktu itu, seorang teman menyodorkan buku best seller-nya Muhammad Faudzil Adzim, trilogi pernikahannya yang laku keras, disatukan menjadi “Kado Pernikahan untuk Istriku Tercinta”, saya yang suka sekali membaca ‘lumayan’ tertarik… tapi ternyata… saya hanyalah seorang gadis kecil yang merasa terlalu muda untuk membaca buku dengan genre demikian… dampaknya… saya mual-mual, hingga sempat terbersit dalam hati untuk tidak akan mengkonsumsi buku yang berjenis sama… sampai saya benar-benar akan menikah… dan itu berlanjut sampai sekarang… hehe…)

Entah mengapa saya sangat suka membaca buku-buku tentang pendidikan anak, dan biasanya… sekian rencana tentang bagaimana saya menjadi ibu, dan bagaimana saya mendidik anak-anak saya… berlompatan di kepala saya… dan pastinya… memicu rasa iri saya kepada semua ibu di dunia… (hehe banyak sekali ya….)

Buku ini sebenarnya bukanlah buku baru, tercatat di tanggal kepemilikannya 10 Juli 2006, tapi ternyata saya belumlah merampungkan membacanya sampai ke halaman terakhir, karena isu tsunami yang menyeruak di lingkungan saya (jarak dari rumah ke laut hanya 300m…), khawatir jika tsunami itu tak sekedar isu, saya terpaksa mengungsikan hampir separuh koleksi buku saya ke kantor… dan seorang teman tertarik untuk meminjamnya… dan… dia baru mengembalikannya 2 hari yang lalu… dan (lagi)… baru lah saya membacanya…

TRILOGI OPERA KELUARGA – Matahari Odi Bersinar karena Maghfi

Buku ini membuat saya harus menilai ulang atas beberapa buku yang telah saya baca dan beri point (salah satu kebiasaan saya… memberi nilai dengan skala tertinggi 10), sebelumnya saya menilai Ms Right Where R U??” sebagai buku terbaik (isinya GUE BANGET :D ), dengan point 9.6 disusul Toto Chan 9.5 tapi kemudian… buku karya Neno Warisman yang telah menggugah ke’IBU’an saya ini harus saya tempatkan menjadi juara, point 9.6 hingga yang lain terpaksa saya turunkan greatnya sebanyak 1 point… ga pa pa lah ya…

Kembali ke rasa iri saya…

Hanya ibu yang cerdas yang bisa melahirkan generasi yang cerdas… saya demikian terkesan pada lembar demi lembar yang saya baca dengan mata berkaca (bahkan kadang sampai menetes)… setiap episode opera menampilkan cerita yang sebenarnya biasa tapi dengan kemasan cinta, kasih-sayang, dan selalu berbalut pada ketaatan dan ketaqwaan pada Alloh…

Ibu Neno demikian memahami anak-anaknya, dan selalu berhasil mengambil “golden opportunity” dari setiap aktivitas keseharian pahlawan-pahlawan kecilnya, Dia berhasil menumbuhkan kepercayaan diri anak keduanya yang selalu kalah dalam permainan ular tangga… (episode Di antara Khauf dan Roja’ Permainan Ular Tangga, Kami Berdoa)… Dia juga sukses menanamkan keinginan anaknya untuk mendirikan sholat tanpa paksaan (episode Aku Mau Sholat)… dan menghancurkan ketidakpedulian Mr GZ si anak pertama (episode Menjebol Karang Keras)… pokoknya setiap episode opera keluarga ini demikian sarat makna, sarat pelajaran, dan sarat keteladanan…

saya jadi teringat dengan kata-kata seorang guru saya waktu saya SMU, katanya… “Didiklah anak-anakmu 17 tahun sebelum dia lahir”… subhanalloh… artinya… kalo kita berencana mempunyai anak di usia 28 tahun (misalnya)… maka pendidikan terhadap anak itu, seharusnya sudah dimulai sejak kita berusia 11 tahun… how?? dengan menjadi seorang perempuan/laki-laki yang menjaga tingkah-laku… menjaga kehormatan diri dan keluarga… dan yang pasti belajar bagaimana menjadi orang tua…

Saya merekomendasikan buku ini untuk di baca oleh para ibu, calon ibu, bapak, calon bapak, atau siapa saja meski hanya untuk sekedar mengisi waktu… buku ini sangat bermanfaat… bisa menjadi motivasi dengan demikian banyaknya Ungkapan perasaan, marah, sedih, bahagia… yang tertuang dalam pelukan, tawa, diskusi, dialog, pujian… semua demikian nyata… hingga saya seolah mendengar langsung Ibu Neno bercerita dengan gayanya yang ekspresif dan binar di matanya yang tak pernah redup…

bagaimana mungkin saya tak menjadi iri???

dan kali ini, rasa iri saya tak saya biarkan berlalu begitu saja… melainkan saya tuangkan dalam doa yang benar-benar tumbuh dari lubuk hati saya terdalam… saya ingin menjadi ibu… ya Alloh… ijinkan saya menjadi ibu… (pembaca… please… aminkan ya…:))

Tinggalkan Balasan

day 2 day

Desember 2006
M S S R K J S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 4,041 hits

blogroll