Posted by: belikebee on: Januari 24, 2007
Tulisan ini, sekedar menjadi komentar atas tulisan seorang temang di blognya (read more: http://riz_ki.blogs.friendster.com/kiki_aja/) dengan tajuk DI JALAN APA ANDA MENIKAH… yang katanya… mengutip bukunya Pak Cah… DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH… (saya belum sempat baca buku ini…)
Mengapa saya merasa perlu memberi komentar?? sekedar berbagi pendapat tak ada salahnya kan???
Saya mencoba memahamami keterkejutan Kiki (dan sebagian besar teman di ‘komunitas’ kami)… “Seorang aktivis dakwah, seorang qiyadah, seorang da’i untuk lingkup Unila dan sekitarnya ”KOK BISA SIH DIA BEGITU?” menikah di luar kebiasaan (?) yang dicontohkan para orang-orang shalih (?)disekitarnya” begitu tulisnya… dan saya yakin pertanyaan seperti itu tak hanya keluar dari seorang Kiki… tapi dari mulut banyak teman yang lain…
Bisa jadi pertanyaan2 itu muncul dari harapan orang2 sekitar Akh Fulan, yang demikian besar kepadanya, siapa sih yang tak mengenal dia?? saat masuk kuliah, adik tingkat saya ini telah hafal 7 juz Al-Quran dengan bacaan yang tartil dan Tajwid yang… Subhanallah bisa membuat siapapun yang mendengarnya merasa tentram… dia juga contoh kader kampus yang terbilang tho’at… saat syuro’ memutuskan memutasi dia dari fakultas ke tingkat universitas… dia nurut, saat harus menjadi Qiyadah atas lembaga dakwah tertinggi di Unila, dia juga menurut… dan masih banyak kelebihan lain yang dimilikinya… singkat kata… dia kader yang lengkap… banyak yang nge-fans… ga cuma akhowat bahkan ikhwan…
Hingga ketika akhir tahun lalu… or awal tahun ini (saya lupa kapan tepatnya) saya mandapat berita dia menikah dengan cara yang ‘tidak biasa’, banyak orang yang mempertanyakan… ada ada dengan dia???
Saya tidaklah hendak menambah deretan panjang komentar miring yang diterimanya, saya hanya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda, dengan kacamata yang juga berbeda… toh sepanjang pernikahan yang terjadi masih melalui jalur yang syar’ie maka ridho Allah tetap bersama mereka…
Di jalan apa Kita Menikah??
Sebenarnya saya tak mau terlalu banyak berkomentar, terlebih saya juga belum sukses bertemu dengan jodoh saya… khawatir jadi “Kaburomaqtan Indallah…” Amat besarlah kemurkaan Allah lantaran kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (As-Shoff:3)… tapi insyaAllah dalam proses menggenapkan dien yang setengah itu, saya tak mau kehilangan yang setengah lagi… karena melalui jalan yang tidak Allah sukai… (doakan saya ya…)
Bismillah…
Biasanya sebelum menikah seseorang akan menetapkan terlebih dahulu kriteria orang yang akan dia nikahi…., kata Rosululloh ”Perempuan itu dinikahi karena 4 hal, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu” (HR. Bukhori Muslim). . Hadist ini, bukan semata-mata diperuntukkan bagi laki-laki… melainkan juga bagi perempuan… hanya saja seorang perempuan kan biasanya lebih pasif… hingga cenderung menunggu… tetapi, perempuan juga boleh diperkenankan untuk memilah-memilih seseorang yang mengkhitbahnya… jika yang datang melamar itu orang kaya… jangan buru-buru diterima, lihat kriteria lainnya… jika yang datang itu orang terpandang, jangan buru-buru diterima, lihat aspek yang lainnya, jika yang datang itu seseorang yang tampan, cakap, lagi gagah… jangan buru-buru diterima… lihat dulu agamanya… namun jika yang datang itu baik agamanya… maka jangan ragu untuk mengatakan “YA”… karena yang lainnya akan mengikuti…
Meskipun agama merupakan ladasan pokok dalam pemilihan calon istri dan suami, akan tetapi pertimbangan yang bersifat manusiawi tidak diabaikan oleh Islam. Kata seorang Ustadz… “Cari sesuatu dalam dirinya yang bisa membuatmu mencintainya…” karena rumah tangga juga butuh cinta… (hehe… saya sih belum sampe sana ilmunya…)
Setelah kriteria ditetapkan, maka dimulailah hunting pasangan hidup……… Pertama harus diyakini bahwa jodoh itu berada dalam kekuasaan Allah Ta’ala. Beberapa cara bisa ditempuh untuk mendapatkan jodoh dan melaksanakan pernikahan: Ada sahabat yang dicarikan pasangan hidupnya oleh Nabi saw, ada sahabat yang mencari sendiri calon istrinya, ada yang dicarikan orang tuanya, dan ada pula wanita yang menawarkan dirinya kepada laki-laki shalih……., mungkin untuk kondisi saat ini, orang2 yang dicarikan oleh nabi bisa diganti dengan orang-orang shalih, ustadz or pembinanya (murrobi).
Begitu… saudara-saudara…
So?? dimana letak kesalahannya?? saya yakin… untuk ikhwan sesholeh dia… sudah mempertimbangkan ke4 kriteria yang Rosululloh saw. ajarkan itu… toh Akhowat yang dinikahinya juga seorang yang sholeh… hanya saja… bisa jadi yang membuat kening sedikit berkerut adalah mengapa tak melalui mekanisme syuro’?? yaa… minimal ngomonglah sama si pembimbing spiritual…
Kalo ngomong… ga bakal dikasi mba… (begitu kata seorang teman…) terlepas apakah akan diijinkan atau tidak… toh sudah melalui prosedur itu… kita tak bisa memaksa… hidup dalam sebuah jamaah memang terikat dengan segala aturan… ga bisa seenaknya… akan ada proses ilaj… dan mungkin akan ada iqob atas ‘ketidaktaatan’…
Di jalan apa anda menikah??? pertanyaan ini sangat mengganggu saya… seolah Akh Fulan itu menikah tidak dijalan yang benar… lantas jalan yang benar itu jalan yang seperti apa??? bukankah jodoh itu Allah yang mengatur… Allah yang menggerakkan hati seorang laki-laki untuk meminang seorang perempuan, dan Allah juga yang menggerakkan kepala seorang perempuan untuk mengIYAkan lamaran seorang laki-laki… bukankah Allah diikutsertakan dalam istikhoroh dan hajat seorang sholeh???
Jama’ah hanya menjadi fasilitator… untuk mempertemukan dua insan yang sebelumnya tidak saling mengenal… kalaulah ada fasilitas atau fasilitator yang lain… sekali lagi… sepanjang tidak melanggar jalan Allah… semua bisa dibenarkan, kan???
Meski saya sangat faham… sebagai dai… hilanglah segala kepentingan dan keinginan pribadi kita… tapi… manakala muncul kembali… manusiawi kok…
so?? saya hanya berharap kita semua bisa mengambil ibroh dari taqdir Allah atas mereka yang telah menikah dengan jalan yang tidak biasa… karena boleh jadi kitapun mungkin begitu…
wallahu’alam
Komentar Terakhir