Posted by: belikebee on: April 12, 2007
Apa bahasan paling menarik yang jadi bahan obrolan waktu senggang para gadis?? (baca: akhowat)… hm… rasa-rasanya tak lain kecuali masalah berumah tangga…ada yang mematok target menikah paling tidak diusia tertentu, ada yang hanya mau menikah jika sudah lulus kuliah dan berkerja satu-dua tahun… ada juga yang relatif (lumayan) berani… hingga mengaku siap menikah meski titel sarjana belum disandangnya… dan tak lupa terselip harapan tentang tipe laki-laki seperti apa yang ingin mereka jadikan teman hidup…
“Tau ga mb… aku sekarang selalu memanfaatkan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa… barangkali jika ada yang melihat mereka akan merasa aneh… kok aku doa lama bener… tiap buka puasa, tiap abis sholat, tiap hujan turun… 1/3 malam terakhir pas tahajjud… pokoknya semua waktu mustajab ga ada yang aku lewatin… tau ga apa yang jadi doaku?? “ya Allah beri keyakikan kepada seseorang yang telah engkau tetapkan menjadi jodohku… lindungi dia… jauhkan dari segala bahaya… bla..bla..bla..” pokoknya aku mendoakan siapapun dia… ngerti ga mb… aku mendoakan seseorang yang bahkan aku belum tau siapa dia… seperti apa rupanya… bayangkan…”
hm… saya tidak menjawab… tapi kata-katanya demikian melekat dibenak saya dan terngiang berulang-ulang… subhanallah… sejauh ini saya merasa diusia saya yang tak lagi abege ini… … saya belum sampai PANIK… saya termasuk yang agak ‘alergi’ jika membicarakan masalah pernikahan… termasuk mengkonsumsi buku-buku yang membahas tuntas masalah pernikahan… saya merasa membicarakan topik yang satu itu lengkap dengan pernak-perniknya sebagai sesuatu yang tabu… meski kadang saya juga tergoda membahasnya… biasanya kalo tak dengan sesama jomblo dewasa… saya membahasnya dengan monolog hati saya… (:D) alias membahasnya sendiri… dengan hasil yang selalu sukses membuat saja merasa bahwa Menikah bukanlah sebuah Prestasi…
Saya masih enjoy aja menikmati ke-jomblo-an saya… saya merasa masih banyak yang bisa saya lakukan ketimbang sibuk memikirkan jodoh dan jodoh… saya merasa… Allah punya waktu yang terbaik buat saya untuk mempertemukan saya dengan seseorang itu… dan saya ringan saja… (Iya gitu??)… hingga sampai sekarang… seringkali saya merasa malu untuk memohon sedemikian rupa kepada Allah… malu… atau (?)
Menikah bukan Unjuk Prestasi…
Saya jadi teringat pada sebuah artikel di majalah Ummi… saya lupa kapan terbitnya… (saya sudah coba obrak-abrik koleksi majalah saya… tapi tak juga ketemu… mungkin ada yang pinjam??? AYO KEMBALIKAN!!!) Artikel itu diawali dengan kisah seorang Seorang muslimah dengan berkaca-kaca bercerita kepada penulis bahwa ia ingin segera menikah. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu’, juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh. isi artikelnya kurang lebih seperti ini… (saya kutipkan lanjutannya ya…)
Ketika kuliah saya berharap bisa menikah maksimal usia 25 tahun. Namun Allah swt baru memberikan jodoh saat usia saya 27 tahun. Meski ‘hanya’ 2 tahun menanti, masa itu nyatanya tidaklah dapat dikatakan sebentar untuk menguji kesabaran jika tanpa ketegaran, rasa percaya diri, bebas dari prasangka dan perasaan tertekan. Satu hal yang membuat saya selalu merasa bersyukur saat itu adalah, Allah menolong saya tetap memiliki obsesi dan berkarya.
Seiring waktu, saya makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.
Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ”Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil ‘Mbak’. Anak saya kan sudah tiga.” Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di ‘uji’ dengan berbagai kemudahan dari Allah?
Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan” Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.
Demikian penggalan isi artikelnya..
Dulu… waktu pertama saya membacanya… (sekitar 3 atau 4 tahun lalu…) saya setuju sekali bahwa menikah (dan punya anak) bukanlah sebuah prestasi… menikah adalah takdir Allah atas diri seseorang… tapi beberapa hari lalu saya sempat berdiskusi dengan seorang Ummahat (semoga Allah merahmatinya)… pikiran saya jadi terbuka… bahwa menikah memang sebuah prestasi…
Mengapa bisa begitu??? hm… begini…
1. Menikah itu membutuhkan keberanian…
Seseorang yang sukses mengalahkan rasa takutnya adalah seseorang yang berprestasi… setuju?? berapa banyak laki-laki dewasa yang tak berani untuk menikah karena penghasilan bulanannya yang belum sekian juta… atau tak berkepribadian… (rumah pribadi, kendaraan pribadi, tabungan pribadi…)… atau berapa banyak perempuan yang berubah jadi fobia nikah, karena takut jadi miskin… “makan cinta aja ga cukup mba…” sepasang teman saya berusia sekitar 22 tahun ketika menikah… suaminya belum lulus kuliah… tapi mereka “berani” mengambil resiko… menikah di usia muda… sekarang mereka sudah memiliki segalanya… putra yang hampir 3 orang… rumah yang asri… kendaraan… dan pekerjaan yang lumayan… hm… bukankah Allah menjamin rizki orang yang menikah??? jadi jelas… menikah adalah prestasi
2. Menikah itu membutuhkan bertanggung jawab…
Seorang laki-laki yang mengucapkan akad nikah dihadapan wali seorang perempuan… adalah seseorang yang (diharapkan) bertanggung jawab… bayangkan… diamanahi menjaga dan melindungi seorang perempuan… menafkahinya dengan rezeki yang halal… menjamin ketersediaan segala kebutuhannya… memberi tempat tinggal dan penghidupan yang layak… bla..bla..bla… demikian pula seorang istri… dibutuhkan tanggung yang juga tak sedikit… tanggung jawab menjadi pakaian bagi suami, tanggung jawab melahirkan cahaya mata.
Rabu pekan lalu, saya mendapat kabar dari MSI UGM, tempat saya beberapa waktu lalu mengadu peruntungan… plan menjadikan UGM sebagai almamater saya… tampaknya akan tercapai (insyaAllah…) alhamdulillah… mereka bersedia menerima saya di program reguler… tanpa perlu matrikulasi (syukron atas doa-nya… alhamdulillah masih diijabah… ^_*)… saya bahagia sekali… seharian itu saya sumringah… tapi kemudian ada sebuah pertanyaan muncul via pesan di ponsel saya… “bagaimana jika ketika anti mau sekolah, jodoh anti datang??” saya ringan saja menjawab… “sepanjang dia tak melarang saya sekolah… dan datangnya sebelum Juni… saya siap…”
Jawaban spontan yang keluar begitu saja… hehe… maklum sulawesi banget…
tapi kemudian ketika saya mulai sadar atas konsekuensi ucapan saya itu… weleh.. weleh… beranikah saya??? kemudian saya yang koleris ini… berpikir (tampaknya terlalu jauh)… bagaimana dengan sekolah saya?? jika saya menikah sebelum sekolah… artinya kami akan nikah jarak jauh… bisa ga?? (komentar temen saya sih “pacaran jarak jauh aja bisa… kenapa nikah jarak jauh ga bisa??)
Kemudian muncul ketakutan lainnya… gimana dengan biaya menikah… tinggal dimana setelah menikah… sementara sebagai gadis Bugis… saya santai saja tak menyiapkan tabungan untuk menikah… biasanya biaya pernikahan ditanggung sepenuhnya oleh pihak laki-laki… begitupun ibu saya… dia ringan saja… tak ada budget untuk menikahkan anak perempuannya…
hm… sampai saya bertemu dengan seorang ummahat… semoga Allah merahmatinya… “apa yang anti takutkan itu semuanya adalah masa depan… sesuatu yang ghoib… sebagaimana halnya ajal… anti ini terlalu perfectionis… enjoy ajalah menghadapi kehidupan… yang namanya keinginan, mimpi, angan-angan… tak selamanya sesuai dengan apa yang kita rencanakan… kalopun ada yang pahit, asem, kecut… ya dinikmati aja… bukankah itu adalah bagian dari kehidupan???”
Subhanallah… si ummi nan cantik itu selalu bisa membuat saya memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda… membuat saya mendapat ilmu tanpa pernah merasa di gurui… membuat saya mengerti tanpa pernah merasa di doktrin… hm… beruntungnya saya mengenal dia…
Sekarang saya benar-benar yakin… bahwa menikah adalah sebuah prestasi, dan saya ingin menjadi bagian dari komunitas orang-orang yang berprestasi itu…
sekarang jika ada yang bertanya… “kapan menikah??? kapan punya anak???” maka jawaban saya adalah… “tunggu tanggal mainnya… “ hehe
doakan saya selalu ya…
Waktu aku belum menikah, aku pernah baca artikel yang kau “PENGGAL” itu di majalah UMMI
. Saat itu komentarku menikah memang sebuah prestasi, tetapi bukan sesuatu yang bisa digunakan untuk membanggakan diri, terlebih dengan sengaja atau tidak menyudutkan mereka yang belum menikah.
Setelah aku menikah,rasanya pendapatku tetap sama.
firstly, selamat atas penerimaannya di MSI UGM program reguler, moga makin pinter aja
2ndly, anti saat ini berada diantara titik paranoia dan obsesi. untuk memaknainya, menikahlah
MENIKAH ?
Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..
Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah… ( That simple ?!)
Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia.. pria dan wanita.
Dari anatomi saja sudah tidak sebangun.. apalagi urusan jiwa dan hatinya….. ,
Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?!
MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani.
Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.
Kedengarannya seeh indah, tapi kenyataannya ?!
Harus ada ‘Komunikasi dua arah..’, ‘Ada kerelaan mendengar kritik..’, ‘Ada keikhlasan meminta maaf..’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan..’ , dan ‘Keberanian untuk mengemukakan pendapat..’.
Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil. .
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga……
Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa.. bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan- bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama…
MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda.
Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang lain… ?!
Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup… ?!
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’.
Menikah membutuhkan sebuah kelapangan jiwa untuk menggabungkan ku dan kamu menjadi kita…..,
Kesalahan terbesar kita dalam memilih pasangan adalah kita lebih mementingkan dengan siapa kita menikah bukan seperti apa orang yang akan kita nikahi.
Kita lebih melihat dari “xxx” orang tersebut bukan kualitas dari
seseorang… ..!!! ^_^
wah… makasih banget komentarnya bek… doakan selalu ya…
4 KUNCI RUMAH TANGGA HARMONIS
Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.
Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.
Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosong an yang ada di antar mereka.
Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga :
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.
Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.
2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.
Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.
3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.
Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, disinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.
Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.
4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.
Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!
PERNIKAHAN ADALAH SEPERTI SEKOLAH
Bertahun-tahun yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan saya pasangan,
“Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab.
Tidak hanya saya meminta kepada Tuhan, tetapi seraya menjelaskan kriteria pasangan yang saya inginkan.
Saya menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan
damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuhperhatian.
Saya bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini saya impikan.
Sejalan dengan berlalunya waktu,saya menambahkan daftar kriteria yang saya inginkan dalam pasangan
saya.
Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hati saya, “HambaKu, Aku tidak dapat memberikan apa
yang engkau inginkan.”
Saya bertanya, “Mengapa Tuhan?” dan Ia! menjawab, “Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil.
Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.”
Aku bertanya lagi,
“Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dariMu?”
Jawab Tuhan, “Aku akan menjelaskan kepadamu.
Adalah suatu ketidakadilan dan ketidakbenaran bagiKu untuk memenuhi keinginanmu
karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau.
Tidaklah adil bagiKu untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika
terkadang engkau masih kasar; atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam;
atau seseorang yang mudah mengampuni, tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam;
seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak…”
Kemudian Ia berkata kepada saya,
“Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala
kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang
sudah mempunyai semua itu.
Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam
dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu.
Pernikahan adalah seperti sekolah, suatu pendidikan jangka panjang.
Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak
hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang
lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid.
Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna.
Aku memberikanmu seseorang yang dapat bertumbuh bersamamu”.
Ini untuk : yang baru saja menikah,
yang sudah menikah, yang akan menikah dan yang sedang mencari, khususnya yang sedang mencari.
J I K A……..
Jika kamu memancing ikan…..
Setelah ikan itu terikat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu…..
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke dalam air begitu saja….
Karena ia akan sakit oleh ketajaman mata kailmu dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup.
Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang… .
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu menjaga hatinya…..
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja……
Karena ia akan terluka oleh kenangan bersamamu dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya selagi
dia mengingat…
Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah
menganggap ia begitu teguh……cukuplah sekadar keperluanmu.
Apabila sekali ia retak……tentu sukar untuk kamu menambalnya semula……
Akhirnya ia dibuang….. .
Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi…..
Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya…. .
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa…. .
Anggaplah ia manusia biasa.
Apabila sesekali ia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. …. akhirnya kamu
kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan
terus hingga ke akhirnya….
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi…..yang pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain….
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. kamu akan menyesal.
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan….
yang membawa kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu.
Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba bandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya; apabila dia menjadi milik orang lain kamu juga akan menyesal
Horeee.. InsyaALLOH Selangkah lagi akan menggapai prestasi baru…
Ciayo mbak…
Pertahankan Prestasimu.. walau akan ada halangan dan rintangan menantang tebaslah dengan hatimu (Afwan keseringan nonton film action)…
n Selamat menempuh dunia baru (dunia lain???)…
Teman Kecil Adikmu
Aprian Saputro Mangunkusumo Ketimpa Kelopo Ora Opo – opo
Jzklh..
sukses ya mba,,,
thanks tulisannya,,,,
jadi bikin semangat juga,,, ^_^
hmm.. menikah? hmm tidak terlalu mudah tidak juga terlalu susah.
yang penting siap lahir batin dan siap menghadapi masalah.
so menikah??? hmm.. kapan ya saatnya tiba…
MEnikah=menggabungkan 2 kepentingan
karena 2-2nya penting, jadi harus didahulukan
au ah mba, gak tau mau komen apa. tapi yang jelas aku suka tulisannya kok.
pokoknya aku mau nikah mba ndanggg
Menikahlah segera karena menikah itu sangat enak. Kita bisa berbagi segala masalah hidup dengan dia. Ada yang ngurusin ada yang nemenin dan ada yang mikirin dan ada yang segalanya deeh.
Ayoooo buruan nikaaaaaaah. Pasti gak bakalan nyesel deeeeeh
setuju bro…:D
April 19, 2007 pada 4:19 am
pertama2 met ya da keterima menjadi mhs MSi Reguler mbak Anna.
Comment aq………. Menikah memanglah sebuah prestasi yang bila tidak dijaga bisa hancur…..
n bukankah dengan menikah seseorang menjadi kaya.
Seperti buku yang pernah aq baca (lp karangan sapa) ‘MENIKAHLAH ENGKAU MENJADI KAYA’