be_like_bee

Menikah adalah… PRESTASI

Posted by: belikebee on: April 12, 2007

Apa bahasan paling menarik yang jadi bahan obrolan waktu senggang para gadis?? (baca: akhowat)… hm… rasa-rasanya tak lain kecuali masalah berumah tangga…ada yang mematok target menikah paling tidak diusia tertentu, ada yang hanya mau menikah jika sudah lulus kuliah dan berkerja satu-dua tahun… ada juga yang relatif (lumayan) berani… hingga mengaku siap menikah meski titel sarjana belum disandangnya… dan tak lupa terselip harapan tentang tipe laki-laki seperti apa yang ingin mereka jadikan teman hidup…

“Tau ga mb… aku sekarang selalu memanfaatkan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa… barangkali jika ada yang melihat mereka akan merasa aneh… kok aku doa lama bener… tiap buka puasa, tiap abis sholat, tiap hujan turun… 1/3 malam terakhir pas tahajjud… pokoknya semua waktu mustajab ga ada yang aku lewatin… tau ga apa yang jadi doaku?? “ya Allah beri keyakikan kepada seseorang yang telah engkau tetapkan menjadi jodohku… lindungi dia… jauhkan dari segala bahaya… bla..bla..bla..” pokoknya aku mendoakan siapapun dia… ngerti ga mb… aku mendoakan seseorang yang bahkan aku belum tau siapa dia… seperti apa rupanya… bayangkan…”

hm… saya tidak menjawab… tapi kata-katanya demikian melekat dibenak saya dan terngiang berulang-ulang… subhanallah… sejauh ini saya merasa diusia saya yang tak lagi abege ini… … saya belum sampai PANIK… saya termasuk yang agak ‘alergi’ jika membicarakan masalah pernikahan… termasuk mengkonsumsi buku-buku yang membahas tuntas masalah pernikahan… saya merasa membicarakan topik yang satu itu lengkap dengan pernak-perniknya sebagai sesuatu yang tabu… meski kadang saya juga tergoda membahasnya… biasanya kalo tak dengan sesama jomblo dewasa… saya membahasnya dengan monolog hati saya… (:D) alias membahasnya sendiri… dengan hasil yang selalu sukses membuat saja merasa bahwa Menikah bukanlah sebuah Prestasi…

Saya masih enjoy aja menikmati ke-jomblo-an saya… saya merasa masih banyak yang bisa saya lakukan ketimbang sibuk memikirkan jodoh dan jodoh… saya merasa… Allah punya waktu yang terbaik buat saya untuk mempertemukan saya dengan seseorang itu… dan saya ringan saja… (Iya gitu??)… hingga sampai sekarang… seringkali saya merasa malu untuk memohon sedemikian rupa kepada Allah… malu… atau (?)

Menikah bukan Unjuk Prestasi…

Saya jadi teringat pada sebuah artikel di majalah Ummi… saya lupa kapan terbitnya… (saya sudah coba obrak-abrik koleksi majalah saya… tapi tak juga ketemu… mungkin ada yang pinjam??? AYO KEMBALIKAN!!!) Artikel itu diawali dengan kisah seorang Seorang muslimah dengan berkaca-kaca bercerita kepada penulis bahwa ia ingin segera menikah. Masalah itu begitu berat membebani pikirannya bahkan mempengaruhi ibadahnya. Ia menjadi tidak tenang, shalat tidak khusyu’, juga sulit tidur. Kondisi fisiknya tentu jadi ikut terpengaruh. isi artikelnya kurang lebih seperti ini… (saya kutipkan lanjutannya ya…)

Ketika kuliah saya berharap bisa menikah maksimal usia 25 tahun. Namun Allah swt baru memberikan jodoh saat usia saya 27 tahun. Meski ‘hanya’ 2 tahun menanti, masa itu nyatanya tidaklah dapat dikatakan sebentar untuk menguji kesabaran jika tanpa ketegaran, rasa percaya diri, bebas dari prasangka dan perasaan tertekan. Satu hal yang membuat saya selalu merasa bersyukur saat itu adalah, Allah menolong saya tetap memiliki obsesi dan berkarya.

Seiring waktu, saya makin meyakini Allah bisa menjodohkan hamba-Nya kapan saja. Tapi, seringkali Dia mempunyai rencana lain yang mesti kita ambil hikmahnya sebanyak-banyaknya. Saya menyadari menikah bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bahagia mungkin benar, karena ia adalah anugrah istimewa. Tapi merasa bangga dan lebih baik dibanding orang lain, jelas tidak tepat. Apalagi dianggap segala-galanya.

Saya gemas mendengar seorang ummahat berujar kepada muslimah yang usianya jauh lebih tua namun belum berkeluarga, ”Wah, kalau gitu saya dong yang harusnya dipanggil ‘Mbak’. Anak saya kan sudah tiga.” Saya saja tidak nyaman dengan ucapannya, apalagi yang bersangkutan? Saya tidak tahu, apakah ia sudah kehilangan kepekaan? Atau, memang begitu sifat manusia yang kerap di ‘uji’ dengan berbagai kemudahan dari Allah?

Seandainya tidak terlambat menemukan ungkapan indah dalam surat Al-Kahfi ayat 46: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan” Tentu saat itu saya akan menyadarkannya untuk bersikap lebih dewasa.

Demikian penggalan isi artikelnya..

Dulu… waktu pertama saya membacanya… (sekitar 3 atau 4 tahun lalu…) saya setuju sekali bahwa menikah (dan punya anak) bukanlah sebuah prestasi… menikah adalah takdir Allah atas diri seseorang… tapi beberapa hari lalu saya sempat berdiskusi dengan seorang Ummahat (semoga Allah merahmatinya)… pikiran saya jadi terbuka… bahwa menikah memang sebuah prestasi…

Mengapa bisa begitu??? hm… begini…

1. Menikah itu membutuhkan keberanian…
Seseorang yang sukses mengalahkan rasa takutnya adalah seseorang yang berprestasi… setuju?? berapa banyak laki-laki dewasa yang tak berani untuk menikah karena penghasilan bulanannya yang belum sekian juta… atau tak berkepribadian… (rumah pribadi, kendaraan pribadi, tabungan pribadi…)… atau berapa banyak perempuan yang berubah jadi fobia nikah, karena takut jadi miskin… “makan cinta aja ga cukup mba…” sepasang teman saya berusia sekitar 22 tahun ketika menikah… suaminya belum lulus kuliah… tapi mereka “berani” mengambil resiko… menikah di usia muda… sekarang mereka sudah memiliki segalanya… putra yang hampir 3 orang… rumah yang asri… kendaraan… dan pekerjaan yang lumayan… hm… bukankah Allah menjamin rizki orang yang menikah??? jadi jelas… menikah adalah prestasi

2. Menikah itu membutuhkan bertanggung jawab…
Seorang laki-laki yang mengucapkan akad nikah dihadapan wali seorang perempuan… adalah seseorang yang (diharapkan) bertanggung jawab… bayangkan… diamanahi menjaga dan melindungi seorang perempuan… menafkahinya dengan rezeki yang halal… menjamin ketersediaan segala kebutuhannya… memberi tempat tinggal dan penghidupan yang layak… bla..bla..bla… demikian pula seorang istri… dibutuhkan tanggung yang juga tak sedikit… tanggung jawab menjadi pakaian bagi suami, tanggung jawab melahirkan cahaya mata.

Rabu pekan lalu, saya mendapat kabar dari MSI UGM, tempat saya beberapa waktu lalu mengadu peruntungan… plan menjadikan UGM sebagai almamater saya… tampaknya akan tercapai (insyaAllah…) alhamdulillah… mereka bersedia menerima saya di program reguler… tanpa perlu matrikulasi (syukron atas doa-nya… alhamdulillah masih diijabah… ^_*)… saya bahagia sekali… seharian itu saya sumringah… tapi kemudian ada sebuah pertanyaan muncul via pesan di ponsel saya… “bagaimana jika ketika anti mau sekolah, jodoh anti datang??” saya ringan saja menjawab… “sepanjang dia tak melarang saya sekolah… dan datangnya sebelum Juni… saya siap…”

Jawaban spontan yang keluar begitu saja… hehe… maklum sulawesi banget… :D tapi kemudian ketika saya mulai sadar atas konsekuensi ucapan saya itu… weleh.. weleh… beranikah saya??? kemudian saya yang koleris ini… berpikir (tampaknya terlalu jauh)… bagaimana dengan sekolah saya?? jika saya menikah sebelum sekolah… artinya kami akan nikah jarak jauh… bisa ga?? (komentar temen saya sih “pacaran jarak jauh aja bisa… kenapa nikah jarak jauh ga bisa??)

Kemudian muncul ketakutan lainnya… gimana dengan biaya menikah… tinggal dimana setelah menikah… sementara sebagai gadis Bugis… saya santai saja tak menyiapkan tabungan untuk menikah… biasanya biaya pernikahan ditanggung sepenuhnya oleh pihak laki-laki… begitupun ibu saya… dia ringan saja… tak ada budget untuk menikahkan anak perempuannya…

hm… sampai saya bertemu dengan seorang ummahat… semoga Allah merahmatinya… “apa yang anti takutkan itu semuanya adalah masa depan… sesuatu yang ghoib… sebagaimana halnya ajal… anti ini terlalu perfectionis… enjoy ajalah menghadapi kehidupan… yang namanya keinginan, mimpi, angan-angan… tak selamanya sesuai dengan apa yang kita rencanakan… kalopun ada yang pahit, asem, kecut… ya dinikmati aja… bukankah itu adalah bagian dari kehidupan???”

Subhanallah… si ummi nan cantik itu selalu bisa membuat saya memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda… membuat saya mendapat ilmu tanpa pernah merasa di gurui… membuat saya mengerti tanpa pernah merasa di doktrin… hm… beruntungnya saya mengenal dia…

Sekarang saya benar-benar yakin… bahwa menikah adalah sebuah prestasi, dan saya ingin menjadi bagian dari komunitas orang-orang yang berprestasi itu…

sekarang jika ada yang bertanya… “kapan menikah??? kapan punya anak???” maka jawaban saya adalah… “tunggu tanggal mainnya… “ hehe

doakan saya selalu ya…

yang terindah dalam kehidupan

Posted by: belikebee on: April 11, 2007

jatuh cinta
tertawa keras hingga wajah memerah
mandi air hangat
tidak perlu antri di kasir
mendapat surat/pesan singkat
berbaring di tempat tidur sambil mendengar suara hujan
handuk hangat setelah diseterika
menemukan baju idaman dengan diskon setengah harga
milkshakes rasa coklat
berendam dengan busa sabun yang lembut
mendengar seseorang berkata “kamu cantik”
menemukan uang Rp 50.000,- dari jaket yang sudah lama tidak terpakai
mimpi indah
minuman dingin dihari panas
bermain ayunan
meyaksikan matahari terbenam di tepi pantai
mendapat pandangan spesial dari seseorang
bantal empuk dipunggung
coklat panas di saat udara dingin
mendapat telepon
berkumpul dengan keluarga dan saudara
dipuji dengan kata-kata “kamu cerdas”
berhasil menyelesaikan puzzle
hang out with old friends
berbaring ditempat tidur dengan sprai yang baru diganti
bertemu dengan seseorang yang sedang dirindukan
berjalan di taman
berkemah di halaman rumah dan tidur dibawah cahaya purnama
seseorang mempermainkan rambut anda
berjalan tanpa alas kaki di pasir pantai yang lembut
Mendapat gaji pertama
lulus kompre
d.i.l.a.m.a.r  :D
mendapat sebuah kejutan
bangun tidur di pagi hari dan bersyukur atas hari-hari yang indah

(ada yang lain??)

Nilai Sebuah Ke-TAAT-an

Posted by: belikebee on: April 11, 2007

“Dalam kondisi apapun seorang suami menuntut kepatuhan yang penuh dari istrinya” kata-kata itu berasal dari seorang teman kantor saya yang berstatus sebagai suami (dengan satu anak… ketika itu)… kening saya lantas berkerenyit… telinga saya mendengar kata-katanya dengan jelas… tapi hati saya seolah-oleh mendengar “jikalau manusia boleh menyembah selain Alloh… tentulah seorang istri diperintahkan untuk menyembah Suaminya…” lantas saya terdiam… dengan background lantunan “istri soleha”-nya the Dzikir dari tape mobil-nya… saya merenung…

Jiwa feminis saya terusik… masa sih segitunya… bukankah suami istri itu, berjalan beriringan?? bukannya yang satu berlari sementara yang lain terseret-seret mengikuti … bukankah suami istri itu partner dalam berumah tangga?? bukannya yang satu menjadi pelayan bagi yang lain… bukankah suami istri itu saling melengkapi?? bukannya yang satu menjadi beban bagi yang lain…

Bisakah setelah kepatuhan kepada Alloh, saya meletakkan kepatuhan saya sepenuhnya kepada seseorang bernama laki-laki?…

Kemudian saya mencoba membayangkan seperti apa rupa saya saat saya harus berkutat di dapur menyiapkan sarapan, sementara anak-anak merengek minta di buatkan susu, mesin cuci sudah bernyanyi meminta isinya segera dikeluarkan… telepon berdering dan ada seorang laki-laki yang asik menikmati kopi sambil membaca koran pagi… atau bersantai di depan televisi menyaksikan berita… kembali jiwa feminis saya tak rela…

Ibu saja (mungkin juga seorang feminis), selalu menekankan kepada anak perempuannya, untuk berpenghasilan… supaya bisa memberikan kontribusi bagi rumah tangga, supaya jika terjadi sesuatu dengan si tulang punggung, perempuan tetap bisa survive, supaya bisa memenuhi keinginannya tanpa sepenuhnya bergantung pada penghasilan suami… tapi menurut saya… dampaknya adalah seorang perempuan harus berperan ganda… jadi istri… jadi ibu… dan jadi pekerja… sementara laki-laki tidak… sosok laki2 digambarkan sebagai sosok superior yang tak mau tahu urusan pernak-pernik kerumahtanggaan… pokoknya cari uang… masalah baju kotor, piring menumpuk, debu dimana-mana bukan urusan mereka, masalah uang yang mereka berikan cukup atau tidak itu jadi tanggung jawab istri untuk membuatnya cukup…

itu gambaran laki-laki umumnya ya… meski tak semua laki-laki demikian, contohnya Bapak… dia tak segan membantu mencuci piring, momong anak, bahkan ketika saya kecil, ada semacam pembagian tugas, ibu mengurusi dapur… dan bapak menangani masalah baju, dari mulai mencuci sampai menyeterika … sebagai anak saya tak pernah tahu kapan mereka berembug soal pembagian tugas itu… semua berjalan teratur… barangkali sosok Bapak (yang galak tapi pengertian…:D) ini demikian melekat di benak saya… hingga kadang terpikir, mungkinkah ayah dari anak-anak saya kelak bisa seperti Bapak saya???

Saya jadi teringat cerita seorang teman di Jogja, yang memiliki kakak seorang dosen yang juga bersuamikan dosen… berasal dari latar budaya yang berbeda, sang istri yang sosial dan sumatera banget bersuamikan orang eksak yang jawa banget… awalnya saya pikir… gimana menyatukannya ya??? Ternyata keluarga mereka baik-baik saja… bahkan jika dapur Istrinya berisik oleh aneka bunyi-bunyian akibat alat masak beradu, sang suami akan ikutan ke dapur dan bilang “sudah… sudah… jangan habiskan waktumu di dapur… mari kita sama-sama berkarya di luar…how sweet… menurut saya kata-kata itu jauh lebih indah daripada segudang kata mutiara yang diberikan lengkap dengan sekeranjang mawar merah…

Bisakah setelah kepatuhan kepada Alloh, saya meletakkan kepatuhan saya sepenuhnya kepada seseorang bernama laki-laki?…

Jawabnya … (insyaAlloh…) bisa… sepanjang dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab, laki-laki yang sabar, laki-laki yang pengertian… hanya laki-laki yang demikianlah yang layak mendapatkan kepatuhan yang utuh dari istrinya…

Boleh jadi, karena Alloh tahu bahwa saya belum siap, maka belum dikirimnya sosok laki-laki itu… atau mungkin sedang dalam perjalanan, dan saat saya benar-benar siap, Alloh akan mengatur pertemuan dengan seseorang yang bertahun-tahun ini ‘rela’ meminjamkan tulang rusuknya untuk saya bawa kemana-mana… hehe…

huaah… lega rasanya saya bisa mengungkapkan hal ini kepada ’seseorang’ itu, semoga tak salah mengerti…

SaYa iNi SeDanG fUtuR

Posted by: belikebee on: April 11, 2007

Saya ini sedang futur
Terbukti dengan mulai ogah-ogahannya saya
datang ke pengajian setiap pekan
Dengan alasan klasik, kuliah, lelah, sibuklah, inilah, itulah
Saya ini sedang kalah

Saya ini sedang futur
Baca Qur’an kurang, nonton tv doyan
Baca Qur’an, nonton layer emas ketagihan

Saya ini sedang futur
Jarang baca buku tentang Islam
Lebih demen baca Koran

Saya ini sedang futur
Walau takut azab
Tak pernah sekalipun terisak
Malah senangnya terbahak-bahak

Saya ini sedang futur
Malas berdoa, inginnya pasrah tanpa usaha

Saya ini sedang futur
Lihat perut saya makin buncit
Karena junk food serta pangsit
Kalau infaq sedikit sudah mulai pelit

Saya ini sedang futur
Sibuk ngurusi pekerjaan
Ogah nangani binaan

Saya ini sedang futur
Tak lagi bersyukur
Sudah mulai tidak jujur

Saya ini sedang futur
Senang disanjung, dikritik murung

Saya ini sedang futur
Sangat sukar bangun malam tafakkur
Lebih senang peluk guling mendengkur

Saya ini sedang futur
Malas ngurusi keluarga
Rajin menggunjing tetangga
Sedikit sekali bermuhasabah
Sering sekali menggibah

Saya ini sedang futur
Kenapa saya futur?
Kenapa tidak ada seorang ikhwahpun yang menegur atau menghibur?
Kenapa batas-batas mulai kendur?
Kenapa kepura-puraan, basa-basi, kekakuan makin subur?
Kenapa diantara kita sudah mulai tidak jujur?
Kenapa diantara kita sudah ada yang ngawur?
Kenapa ukhuwah diantara kita sudah mulai hancur?
Kenapa diantara kita ada yang hanya pandai bertutur?

Ya Alloh, berikanlah saya pelipur agar tidak semakin futur dan tersungkur…

(terima kasih kepada seseorang yang telah mengirimkan email ini padaku… duluuuu sekali)

Mengejar M.I.M.P.I

Posted by: belikebee on: Maret 12, 2007

Saya sibuk… hehe… biasanya juga begitu sih… hanya bedanya dulu saya hanya kelihatannya sibuk atau pura-pura sibuk… kali ini saya benar-benar sibuk… (R U SURE???)

Seberapa sibuk sih saya?? sangat sibuk… tepatnya sibuk lah… sampe-sampe saya kehilangan waktu untuk menyalurkan kesenangan saya dalam menulis… kesukaan saya mencorat-coret di kertas warna-warni saya, hobbi saya ke toko buku… bahkan sampai-sampai saya lupa bagaimana rasanya tidur siang… (kalo yang ini emang dah lama banget)

Awalnya saya tak sadar, bahwa saya ‘lupa’ melakukan beberapa kesenangan saya itu… saya baru menyadarinya saat saya melihat postingan di-blog saya yg kok ga nambah-nambah ya??? atau pesan-pesan yang masuk di offline msg di ym saya… “kok blognya ga ada yang baru seh?? ditunggu karya-karyanya ya…” atau “kapan neh menulis lagi… blognya udah basi tau…” hehe

Mang saya ngapain???

Saya sibuk mempersiapkan diri menjemput cita-cita saya… sekolah lagi… (AYOOOO SEKOLAAAH :D ), sebagai dosen, melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi menjadi semacam keharusan… (di luar negeri yang boleh jadi dosen, hanya profesor… wuih… kapan Indonesia bisa begitu ya??)

Awal tahun ini, temen-temen di jurusan sepakat bahwa sayalah yang tahun ini di tugaskan ‘berangkat’ terserah mau di dalam or luar negeri… setelah saya pikir-pikir… dan dengan meminta pertimbangan orang terdekat saya… saya memutuskan untuk mencoba keduanya… hehe… jajal kemampuan lha ceritanya…

Tadinya saya pikir persiapan sekolah lagi tak akan seribet ini, yaaa… paling-paling hanya buka-buka buku kuliah sedikit, review ingatan… kalo cuma itumah… gampil… toh selama ini mang kerjaannya mengulang pelajaran kan???

Lantas apa yang bikin jadi sibuk bener???

Ternyata, mo sekolah lagi itu ribet-bet… apalagi mau yang gratisan… saya yang ga pernah ngerasain UMPTN (jaman saya dulu namanya belum SPMB), jadi agak keder juga… gimana nggak… dari mulai survey universitas mana yang mau saya ambil… pilah-pilih program studi dan konsentrasi, hunting beasiswanya… (ini yang paling penting)… nyari-nyari rekomendasi dari mantan dekan yang udah suseh ditemuin… ampe belajar… belajar… dan belajar…

Januari lalu, Depkominfo membuka peluang bagi semua warga negara untuk sekolah gratis di luar negeri, Australia, Belanda, atau Swedia… sebuah tantangan baru… tapi karena syarat yang diminta lumayan tinggi, Toefl dan TPA 525… saya yang cuma 500 ini, batal mencoba kemampuan… soale deadlinenya cuma ampe 15 Februari… dari pada berperang tanpa persiapan… mendingan saya hunting yg lain, yang lebih memungkinkan…

Pada waktu yang hampir bersamaan, Stuned (Study in Netherland) juga membuka peluang… untuk yang ini… syaratnya lebih mudah dengan waktu yang lebih panjang… apalagi mereka lebih mengutamakan perempuan, dosen, dan domisili di luar Jawa… (itukan GUE BANGET :D )… dengan score toefl yang cuma 450 dan ada kuliah persiapan bahasa selama 4-5 bulan sebelum berangkat… hm… saya akan mencobanya… deadlinenya masih ampe agustus… meski untuk yang ini, banyak yang complain… Belanda kan negara penjajah… “makanya… saya mau ambil sedikit harta yang dulu mereka rampas dari kita… ” begitu alasan saya….

Saya juga tak menutup kemungkinan untuk meneruskan di dalam negeri aja… untuk yang ini Ibu mendukung sekali… lebih dekat katanya… biar kalo ada apa-apa… lebih mudah diaksesnya… hm… pikir punya pikir… setelah buka site sana sini… JOGJA… kemudian jadi pilihan saya… melanjutkan cita-cita yang sempat terputus beberapa tahun lalu :D … iklim meneliti yang baik bagi dosen, biaya hidup yang murah, juga lebih dekat ke kampung halaman… (wuih… masih jauh kale… :D )

Dan ternyata… mau jadi mahasiswa MSI-nya UGM itu juga lumayan butuh persiapan, apalagi semua tesnya harus di lakukan di tempat… mulai dari Tes Potensi Akademik (skorenya 500), Toefl (450), plus tes kompetensi keahlian… bayangin… kudu belajar lagi 5 mata kuliah yang sejak saya selesai kuliah hampir tak pernah saya sentuh… Akuntansi Keuangan, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Niirlaba, Pemeriksaan Akuntansi, dan Statistika… konsentrasi matakuliah yang saya dalami setelah menjadi dosen adalah sistem informasi akuntansi dan komputerisasi akuntansi… juga sedikit bersentuhan dengan akuntansi syariah… wah..wah…

Jadilah saya benar-benar sibuk… saya tipe pembelajar yang visual dan kinestetik… jadi selain membaca… akan lebih mudah bagi saya jika juga menuliskannya… bikin resume lhah… plus berusaha menyelesaikan studi kasus akuntansi… phpfh… 75 + 25 deh…

Pertengahan Bulan Maret ini… tepatnya tanggal 18, InsyaAllah, saya berangkat ke Jogja… (jangan coba cari jemput saya di Adi Sutcipto ya… agak trauma… mending naik bus aja… :D )… rangkaian tesnya di mulai dari tanggal 21 dan berakhir tanggal 26 maret… doakan pisik, psikis, ingatan, dan ruhani saya selalu dalam keadaan fit ya… biar seperti apapun tes yang diberikan… saya tetap enjoy… dan finaly… I DID IT…

Segitu dulu… konfirmasi soal kesibukan saya… hehe… dan tetap jadi pembaca tulisan2 amairan saya ya… semoga bisa lebih baik…

(Laut Buku di Kamar saya… :D )
Ahad Malam, 11 Maret (Mb Tutik Milad… euy) 2007
10:35

Seseorang yang Mencintai-mu

Posted by: belikebee on: Maret 11, 2007

Seseorang yg mencintai kamu,
tidak Bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu,
Dia hanya tau, dimata dia, kamulah satu-satunya.

Seseorang yg mencintai kamu,
sebenarnya selalu membuatmu marah / gila / jengkel / stres.
Tapi ia tak pernah tau hal bodoh apa yg sudah ia lakukan,
karena semua yg ia lakukan adalah untuk kebaikanmu.

Seseorang yg mencintai kamu, jarang memujimu,
tetapi di dalam hatinya kamu adalah yang terbaik,
hanya ia yg tau.

Seseorang yg mencintai kamu,
akan marah-marah atau mengeluh
jika kamu tak membalas pesannya atau mengangkat telp nya,
karena ia peduli dan ia tak ingin
sesuatu yang buruk terjadi atas dirimu.

Seseorang yg mencintai kamu,
Hanya menjatuhkan airmatanya di hadapanmu.
Ketika kamu mencoba utk menghapus air matanya,
Kamu telah menyentuh hatinya,
Dimana hatinya selalu berdegup / berdenyut / bergetar utk kamu.

Seseorang yg mencintai kamu,
akan mengingat setiap kata yg kamu ucapkan,
bahkan yang tidak sengaja
dan ia akan selalu menggunakan kata2 itu tepat waktunya.

Seseorang yg mencintai kamu,
tidak akan memberikan janji apapun dgn mudah,
karna ia tak mau mengingkari janjinya.
Ia ingin kamu Utk mempercayainya dan ia ingin
memberikan hidup yg paling bahagia dan aman selama lamanya.

Seseorang yg mencintai kamu,
Mungkin tdk bisa mengingat kejadian / kesempatan istimewa,
seperti perayaan hari ulang tahunmu,
tapi ia tau bahwa setiap detik yg ia lalui,
ia mencintai kamu, tak peduli hari apakah hari itu.

Seseorang yg mencintai kamu,
tak mau berkata Aku mencintaimu dgn mudah,
karena segalanya yang ia lakukan utk kamu
adalah untuk menunjukkan bahwa ia siap mencintaimu,

tetapi hanya ia yg akan
mengatakan kata I Love You pada situasi yang spesial,
karna ia tdk mau kamu salah mengerti,
dia mau kamu mengetahui bahwa ia mencintai dirimu.

Seseorang yg benar2 mencintai kamu,
Akan merasa bhw sesuatu harus dikatakan sekali saja
karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya.
Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa bahwa
tidak ada yg akan membuatnya bahagia /tersenyum.

Seseorang yg mencintai kamu, akan pergi ke airport utk menjemput kamu,
dia tdk akan membawa seikat mawar dan
memanggilmu sayang seperti yg kamu harapkan.
Tetapi, ia akan membawakan kopermu
Dan menanyakan: Mengapa kamu menjadi lebih kurus
dalam waktu 2 hari? Dengan hatinya yang tulus.

Seseorang yg mencintai kamu, tdk tahu
apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah,
tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah bbrp jam.
Jika kamu menanyakan: mengapa ia telat menelepon,
ia akan berkata: Ketika kamu marah
penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah.
Tetapi, ketika kamu sudah tenang, penjelasannya
baru akan benar2 bekerja /manjur / berguna.

Seseorang yg mencintaimu,
akan selalu menyimpan semua benda yg telah kamu berikan,
bahkan kertas kecil bertuliskan ‘ I LOVE U ‘
ada di dalam dompetnya

dan Seseorang yang mencintaimu,
jarang mengatakan kata2 manis.
Tp kamu tau, tatapannya…
sudah menyalurkan semua……

Seseorang yang mencintai kamu akan selalu
berusaha membuat mu tersenyum dan tertawa
walau terkadang caranya membingungkanmu..

Seseorang yang mencintaimu
Akan membalut hatimu yang pernah terluka
Dan menjaganya dengan setulus hati
agar tidak terluka lagi…
dan ia akan memberikanmu yang terbaik walau
harus menyakiti hatinya sendiri

Seseorang yang mencintaimu…akan rela
melepaskan mu pergi bila bersamanya kamu tidak bahagia…
dan ia akan ikut bahagia walau kamu
yang dicintainya bahagia bersama orang lain

pernahkah kamu mencintai seperti itu????
Maka … berbahagialah orang yg dicintai oleh dirimu….

(thanks to someone that had sent this email for me…)

Too Much Memories…

Posted by: belikebee on: Februari 25, 2007

This is the story about my tears…

Sore itu… sekitar sebulan yang lalu… saya menemukan Sony Ericson T230 saya tergeletak tak bertuan di karpet… sendiri… ponsel itu saya beli pertengahan tahun 2004 lalu kerena Rapel CPNS dibagikan… ponsel pertama yang saya beli dengan keringat saya sendiri…

Iseng2 saya menguatak-atik ponsel yang sejak 1,5 tahun lalu tak pernah saya sentuh, saat saya memutuskan menggunakan Flexi… ponsel itu saya hibahkan pada Heri… hm… sebulan belakangan ponsel itu cuma jadi alternatif saja, sejak Heri memutuskan membeli ponsel baru yang lebih canggih…

Ketika awal memiliki ponsel itu… saya jadi hoby merekam apa saja…ibu mengaji… saya rekam… ada anak kecil menyanyi… saya rekam… ada suara Uni, ada suara Heri… ada suara beberapa orang teman saya… saya tetap menyimpannya… dan tahukah anda… ternyata di ponsel itu juga ada suara Bapak…

“The good example… Nabi Muhammad…”

begitu isi rekamannya… saya tergugu… sungguh… saya lupa bahwa saya memiliki rekaman itu… saya memutar rekaman itu berkali kali… saya merasa… pesan itu seolah nasihat Lukman Hakim kepada anaknya… yang tertuang dalam surat Lukman…

Another Story about my tears…

Malam itu… saya ingin mencoret-coret kertas warna-warni saya… membuat core believe… biar saya bisa semangat menghadapi ujian untuk melanjutkan sekolah… (pfhfp) tapi jadi sedih… coz ternyata saya tak menemukan crayon saya di tempat biasa saya menyimpannya… mungkin si Kiki yang memakai dan lupa mengembalikannya… saya yang terlanjur punya keinginan… jadi bete sendiri… saya cari keliling rumah… semua tempat yang mungkin menjadi tempatnya bersembunyi saya obrak-abrik… but… i found nothing… pencarian terus berlanjut… tahukah anda apa yang saya dapat… saya menemukan sebuah tas berisi diapers dewasa dan masker oksigen yang digunakan Bapak setiap kali dia mengalami gagal nafas… saya kembali tergugu… air mata saya meluncur dengan lancar tanpa hambatan. saya peluk masker itu… yang terbayang adalah saat Bapak berbicara patah-patah ditelepon saat memanggil saya dan meminta saya untuk berangkat ke Jakarta saat itu juga… “Bapak nunggu mba ya… ga apa-apa masuk ruang ICU dulu… yang penting masih sempet ketemu mba… semoga masih bisa…” dia benci ruangan ICU… tak ada teman bicara… tak ada yang menuntun bacaan sholat… yang ada hanya suara langkah kaki perawat yang tergesa-gesa… atau rintihan dari sesama pasien…

Malam itu saya tak jadi menggambar… saya kembali memutar rekaman saat2 terakhir bapak bersama kami…

Hari itu… Jumat 3 safar 1427H atau 3 Maret 2006… habis maghrib, saya bergantian dengan ibu menjaga bapak… “tadi Bapak baca Al-Fatihah sendiri lho mb…”… senang hati saya mendengarnya… sejak di operasi awal Januari, dia selalu kesulitan untuk berkonsentrasi saat sholat… sehingga kami bergantian memandunya… berdasarkan tertib sholat… dan biasanya Bapak paling senang jika saya yang memandunya… :) apalagi saya juga selalu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di sisi tempat tidurnya… “rasanya tentram sekali…” begitu katanya… inginnya saya kembali membacakan Al-Quran baginya… berapapun dia mau…

(sungguh… air mata saya berlarian…)

Karena melihat beberapa baret di tubuhnya… saya complain pada Ibu… “kok kuku Bapak digunting tapi ga di kikir?? tiap kali dia menggaruk badannya jadi baret2 nih bu…”, “belum sempet… mb kikirin aja…” jadilah saya mengikir kuku jari tangannya… saya masih bisa merasakan jemarinya mempermainkan jari2 saya saat saya mengikir kukunya… kemudian… “Mb bahagia ga??” tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang spontan saya jawab… “Bahagia…” Thanks God… untuk pertama kalinya dalam hidup saya… saya bersyukur terlahir sebagai seorang yang cerewet… hingga saya sempat bertanya balik pada Bapak… “Bapak Bahagia ga??”… “Bahagia…” jawabnya… “kenapa?” saya bertanya kembali… “karena Bapak tak pernah jauh dari Allah…” sungguh… perasaan bahagia saya… tak bisa saya lukiskan…

Percakapan itu adalah percakapan terakhir yang dilakukan Bapak… sesudah itu… dia terlihat memejamkan mata… “Bapak mau tidur?” dijawabnya dengan anggukan… kemudian saya pandu dia membaca doa menjelang tidur… dan tak lupa bersyahadat lengkap…

Saya sempat berkerut ketika lirih saya mendengar “Wa’alaikumussalam“… entah menjawab salam dari siapa… kemudian saya melanjutkan mengikir kuku di jari kirinya… Bapak terlihat tenang sekali… hingga saat Ibu menyelesaikan sholat maghrib… “Bapak tidur ya? kok lelap sekali… tadi sore tensinya 110 lho…”, saya kaget… “kok ibu ga bilang?? biasanya Bapak kan 150an…” segera saya memanggil perawat… takut kejadian pasca operasi terulang lagi… tekanan darahnya pernah drop sampai 60/30…

Selanjutnya… semua terjadi begitu cepat… Bapak yang awalnya masih bisa saya ajak berkomunikasi… tak merespon apapun… hanya dari balik masker oksigennya saya bisa melihat bibirnya bergerak mengikuti saya yang berusaha mentalkin… sebisa saya… demi Allah… lutut saya bergetar… air mata saya mengalir… apalagi saat saya memegang ujung jemari kaki dan tangannya yang mulai terasa dingin… dan kening dan seluruh tubuhnya berkeringat…

Saya makin panik saat perawat yang mengukur tekanan darah bapak… terlihat bingung… mungkin tak terdeteksi lagi… saya segera menelepon Heri yang sore itu sedang pengajian rutin di masjid Daarul Hikmah… memintanya segera ke rumah sakit… malam itu… saya hanya berdua dengan ibu… dan hujan turun dengan deras…

Di sela-sela ketegangan saya… saya sempat memohon… “wahai malaikat pencabut nyawa… jika engkau berada di ruangan ini… dan hendak mengambil nyawa Bapak… mohon ambillah dengan lemah lembut… mohon… jangan di sentak…”

Dan sepertinya… sosok yang tadi (mungkin) sempat mengucapkan salam kepada Bapak… memang melaksanakan tugasnya dengan sangat lemah lembut… tanpa hentakan sama sekali… seperti pelita yang kehabisan minyak, awalnya menyala… kemudian meredup… dan benar-benar mati… saya hanya menyaksikan dadanya naik turun dengan sangat lambat… dan akhirnya berhenti sama sekali…

Hingga dokter merasa perlu memeriksanya sekali lagi… tekanan darahnya, denyut nadinya… memompa jantungnya… dan memeriksa pupil matanya… “ya… mba… Bapaknya sudah ga ada… yang sabar ya…” meski saya tau… saya memang akan mendengar kata-kata itu… tak urung saya shok juga… tapi jangan pernah berfikir akan menyaksikan adegan seperti di film2 Indonesia… saya hanya memeluknya sesaat… menyeka keringat yang membasahi kening dan seluruh tubuhnya… mencium kedua matanya… dan memeluknya… terakhir kali… akhirnya saat itu tiba juga…

Inna lillahi wa inna ilaihi Roji’un

Hanya sesaat saya terdiam memandangi sosoknya yang masih terasa hangat… kemudian Saya kembali kedunia… setelah sebelumnya entah berada dimana… saya beralih ke Ibu yang masih berdiri mematung di sebelah saya… saya peluk Ibu… “Bu… Bapak udah ga ada…” hanya itu yang bisa saya ucapkan… dan Ibu hanya mengangguk… “kita beres-beres bu…”

To be continued…

sehari bersama Mas Rofie

Posted by: belikebee on: Februari 23, 2007

its a fullhard day…

Malam ini sebenarnya phisicly… i’m very tired… seharian ini jadi baby sitternya mb Dyah… bayi 17 bulan yang lucu bener itu jadi tanggung jawab saya hari ini… coz umminya baru melahirkan… dan abinya dinas luar kota… mereka yang benar-benar orang baru di Lampung (baru sekitar 6 bulan) benar-benar tak punya keluarga… jadi sebagai teman saya bermetamorfosis menjadi saudaranya… lagipula, bukankah sebenarnya teman itu lebih dari sekedar saudara??

Sejak perutnya membesar saya memang sudah mewanti-wanti ke mb Dyah… “kalo melahirkan… mas Rofi sama saya ya mb”… ceritanya saya sedang belajar menjadi ibu… saya yang belum punya keponakan ini, sama sekali tak punya referensi mengurusi bayi… jadi semangat 45 saat mb Dyah bilang… “wah… boleh banget… :)

Pukul 8 pagi, saya tiba di rumahnya, sebuah kontrakan sederhana, dan disambut dengan pandangan lucu dari bola mata tanpa dosa milik mas Rofi… dengan semangat dia berusaha menggapai gagang pintu untuk membukakan jalan bagi saya untuk masuk… tapi sayang… its lock…

Saat saya masuk… yang pertama menyeruak adalah bau pharfum baby-nya yang lembut… wangi… kemudian dengan bahasa planetnya dia menjelaskan bahwa dia sudah makan pagi itu, sambil menunjuk piring nasi goreng yang berantakan di lantai… dia mencoba mandiri rupanya… sejak bisa pegang sendok sendiri… dia tak mau lagi di suapi…

Mas Rofi memang lucu sekali…

Berbekal tas yg full berisi pernak-perniknya (baju ganti, diapers, susu, biskuit bayi), dan pesan “hati-hati” dari Abi dan umminya… berangkatlah kami berpetualang bersama… :D

Guest what?? sepanjang perjalanan dari rumahnya ke kantor saya… sejauh 10 km, saya merasa jadi pusat perhatian, beberapa pasang mata memandangi takjub, hebat juga neh perempuan, dua tas menyantol di sayap motor, menggendong bayi yang tak berhenti menggerakan telunjuknya setiap kali melihat sesuatu yang aneh menurutnya… beberapa juga memandang kasihan…. kemana abinya??? kok tega membiarkan istrinya berjuang sendirian… hee… pasti mereka mengira… Mas Rofi itu anakku… (lagian kata temen2 kantor… “dah pantes kok bu… ” heee…)

Mas Rofi memang bayi yang menyenangkan…

Sampai di kantor, sepi, karena mahasiswa memang masih libur… beberapa rekan sesama dosen cuek saja, saat dengan susah payah saya turun dari motor, dengan Rofi yang nyaman seperti dalam kantung kangguru… tapi kemudian… “walah… anak siapa bu??”… saya tertawa bangga… “maunya sih anak ku…:D… tapi… bla.bla.bla” dengan singkat saya jelaskan kondisi ummi dan abinya… teman-teman saya geleng2 kepala… beranian… trafic di pagi hari kan croudite… tapi bagi saya… Bismillah… kalo kita pede maka… jadinya ya lancar aja gitu… :D

Awalnya everythings is ok… Mas Rofi yang pemberani, jadi pusat perhatian di lobi kantor, bulak-balik sana-sini… menjelajah… saya hanya memandangi dari jauh… mencoba membiarkan dia berekplorasi… tapi tak lama…Kekacauaan mulai terjadi… saya lupa memasukkan mobil2an yang tadi dimainkannya sewaktu masih dirumah… apalagi dia mulai bosan dengan pena dan kertas… monoton… pikirnya…

Saya mencoba membujuknya dengan peruncing yang berbentuk kereta… dia hanya asik sebentar… selanjutnya dia menarik-narik tangan saya ke arah parkiran… wah jangan2 dia ngajakin pulang… padahal di dalam teman2 masih seminar proposal penelitian… saya ga boleh absen dan ga mungkin absen…

hm… mungkin dia haus…

Saya tawari dia minum susu… bola matanya membulat … lucu sekali… subhanallah… dia mulai asik dengan botol susunya… minum di pangkuan saya sambil menggoyang-goyangkan kakinya tanda keasyikan… nah kalo begini kan enak… saya bisa melanjutnya memahami proposal penelitian yang disajikan…

Tapi… tak lama kemudian… kok mas Rofi semakin berat… dan tak ada gerakan sama sekali… walah… dia tertidur… sodara-sodara… gawat… gimana nih??

“Bawa ke ruangan kajur aja bu… tidurin di shofa… tapi AC-nya di atur… jangan kekecilan…” hm… usul yang baik… saya bawa dia ke ruangan yang nyaman itu… pelan-pelan, saya letakkan di shofa yang empuk… masyaAllah… dia terbangun… haaaa… gimana ini… saya tau persis tangisannya yang keras… saya ga mau menggemparkan kantor… “cup…cup… sayang… bobo lagi ya…” bujuk saya… barangkali karena dia sangat mengantuk… alhamdulillah bujukan saya manjur… huah… lega rasanya…

Ternyata tidurnya lumayan lama… hampir 2 jam… mendekati pukul 12 siang dia terbangun… saya sudah siap dengan botol susunya… kalo-kalo dia menangis… ternyata tidak… senangnya memandang bola mata bening yang kali ini tampak sembab… “kita pulang yuk…”

Dan perjalanan pulangpun di mulai… (tapi sebenarnya tak pulang sebenarnya… coz saya membawanya ke pengajian rutin pekanan saya…), saya kembali merasa mendapat pandangan istimewa dari sesama pengendara… (hehe… saya ke-ge-er-an ya…) apalagi sekitar 10 menit perjalanan, Mas Rofi… tertidur… saya jadi sedikit grogi… bismillah… ya Allah lindungi kami… laju kendaraan hanya saya pacu dengan kecepatan 30-40 km/jam, dengan sesekali kemudi honda saya hanya saya kendalikan dengan satu tangan… (beruntung saya mantan pembalab… hehe… jadi keseimbangan motor tetap terjaga… :D ), karena memperbaiki posisi Mas Rofi yang tertidur lelap… heran… perasaan dia baru bangun tidur ya???

Alhamdulillah… kami sampai dengan selamat… di sambut oleh teman2 yang memandang takjub pada saya… berani bener… hehe… siapa takut ya??

Dan Mas Rofi pun terbangun…

Di majelis ini saya tak perlu panik… ada banyak orang berpengalaman yang bisa membantu saya… saya jadi beristirahat… ada yang membantu mengganti popok, ada yang menyiapkan makan siang… pokoknya lumayan bisa bernafas sedikit lega lah…

ho ho ho… jangan senang dulu

Popok yang baru di ganti ternyata harus di ganti lagi… dia asyik bermain miyak sayur (teman saya memiliki toko di rumahnya…) saya lalai… membiarkan Rofi bermain dengan keponakan pemilik rumah yang masih kelas 1 es de itu… jelas tak bertanggung jawab…

Rofi saya mandikan… ganti popok dan ganti baju…

Selesai sampai di situ??? tidak sodara-sodara… sekitar 15 menit kemudian… seorang teman berkata… “kayaknya Rofi… BAB deh…” sontak hidung saya mengendus… benar… Mas Rofi BAB… Rofi… Rofi… bukannya tadi sekalian… jadi sekali aja ke kamar mandinya… huhu…

Saya benar-benar kelelahan… tapi… sungguh… tak ada perasaan kesal sedikitpun, meski hanya dalam hati… rasa-rasanya… segala lelah dan letih terhapus saat memandang wajah polos dan senyum yang menampakkan gigi kelincinya…

Sore ini saya mengembalikan Rofi pada umminya… ada yang tertinggal di rumah itu… hati saya tak ikut serta… hati saya tertinggal bersama Rofi yang kembali tertidur pulas…

Terima kasih mb Dyah… karena bersedia “meminjamkan” Mas Rofi… sehari bersama Mas Rofi… membuat saya yakin bahwa saya memiliki naluri keibuan… ehm… biasanya teman-teman menjuluki saya Akhwat 1/2… hehe… (sisa 1/2-nya lagi… ga jelas ikhwan apa akhowat… khehe) ternyata anggapan itu salah…saya beneran akhowat… saya bisa menjadi ibu… insyaAllah…

Hari ini saya belajar… belajar bersabar dengan segala tingkah polah anak… belajar memahami keinginan anak… dan yang pasti belajar menghargai kebesaran pengorbanan seorang ibu… hm… jadi inget ibu… ternyata jadi ibu itu… lumayan repot juga ya… makanya buat para ibu… jangan ragu atau malu saat harus menuliskan IBU RUMAH TANGGA sebagai profesi… karena sesungguhnya… menjadi ibu adalah profesi yang membanggakan…

tulisan yang berantakan… maklum ye… sisa-sisa tenaga… capek n nguantuk berat… zzz zzz

Kamis malam, 22 Februari 2007… 23.30
my last energy… :D

Yang Terbaik Bagi-mu

Posted by: belikebee on: Februari 4, 2007

Start with… hmmm…

What are you doing… during in ur drive??? kalo yang di-drive mobil sih… ada fasislitas tape… bisa sambil dengerin radio or kaset… jadi meski sendirian… ga akan bosan…

What are you doing… if u r biker??? hm… jalur harian yang saya lalui pergi dan pulang kantor… luruuuus aja… hanya sekali belok… masuk kampus… 30 menit… pasti bosan… bahkan kadang nguantuk… jadi ngapain???

Hee… sepanjang perjalanan, saya juga mendengarkan lagu… bahkan lifeshow… hehe… dulu saat saya masih jadi pembonceng setianya Heri… ga begitu bosan… ada saja yang jadi bahan obrolan… kadang juga kami berduet… (ade’ku itu tim nasyid lho…) yang kami nyanyikan semua lagu… dan biasanya karena perjalanan ditempuh 1/2 jam… beberapa lagu… lumayan membunuh kejenuhan

Sekarang… saat saya sudah punya aset sendiri… kebiasaan menyanyi itu tetap berlanjut… hanya saja… saya bersolo karier (:D)… lumayan bisa membuat otak kanan saya tetap bekerja… kalo tidak… bisa-bisa saya tidur di jalan… kan berabe…

Berapa lagu??? satu album… tapi albumnya kompilasi… the best of siapa gitu… hihi… beragam lagu dari yang lokal sampai yang interlokal… dari yang konvensional sampai yang syariah (emangnya bank???) kadang nasyid (Rayhan, Issiz, Opick, Snada… dkk), kadang lagu-2 band… kadang lagu lama… bahkan kadang juga terselip lagu asing… pernah juga soundtrack film apa gitu… sesekali senandung saja… sesekali juga murrotal… (tapi jarang… stok hafalannya terbatas… :D )… kadang dzikr ma’tsurat… (kalau pas subuh tak sempat)

Dan pagi ini… yang menjadi teman saya di perjalanan hanya satu lagu… tapi saya rewind berkali-kali… dari keluar rumah sampai memasuki pelataran parkir di kampus… dari balik masker penghalang debu dan helm scotlite merah… saya ‘khusyu’ bersenandung… tak perduli pada nada sumbang yang diproduksi pita suara saya… atau pitch control saya yang lari-lari… atau pada falset saya yang benar-benar fals… saya tetap menyanyi… sesekali saya menyeka air mata yang menetes satu-satu… sesekali saya menarik nafas panjang saat terhanyut dalam syairnya yang mengingatkan saya pada seseorang yang jauuuh dimata… tapi selalu di hati…

Teringat masa kecilku/
kau peluk dan kau manja/
indahnya saat itu/
buatku melambung disisimu/
terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu/
kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu/

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
patuhi peritahmu jauhkan godaan/
yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa/
jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak/

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya/
ku terus berjanji tak kan hianati pintanya/
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu/
kan buktikan ku mampu penuhi maumu/

Andaikan detik ini kan bergulir kembali/
kurindukan suasana basuh jiwaku/
membahagiakan aku karena usapan kasih dan sayangmu/
tuk wujudkan segala sesuatu yg pernah kau lewati/

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya/
kuterus berjanji tak kan hianati pintanya/
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu/
kan buktikan kumampu penuhi maumu/

Lagu itu benar-benar mewakili perasaan saya pagi ini… betapa memori masa kecil saya tentang Bapak terekam dengan baik di benak saya… dan betapa ingin saya mewujudkan mimpi dan harapan Bapak terhadap saya…

Dan memang… saya merasa campur-tangan Bapak luar biasa besar dalam membentuk saya menjadi seperti sekarang ini… meski belum sukses benar… tapi langkah menuju kesuksesan itu telah Bapak rintiskan untuk saya… jauh hari saat saya masih kecil… saat ini tengah saya tapaki… bahkan seringkali saya merasa mimpi dan harapan bapak-lah yang kemudian menjelma menjadi mimpi dan harapan saya…

Ketika kecil saya suka sekali menggambar (sampai sekarang juga sih… hanya waktunya tak banyak lagi)… awalnya pemandangan selalu jadi objek saya… belakangan saya suka sekali menggambar bangunan… dan interiornya (saya masih menyimpan hasilnya lho…) hingga sejak es-de jika ditanya mau jadi apa kalau sudah besar… dengan mantap saya menjawab… “ARSITEK”… cita-cita yang tak begitu umum dibanding dokter, pilot, polisi, guru, atau pemain bola… (:D)

Dan Bapak tak pernah komplain… dia tetap memberi komentar atas hasil-hasil gambar saya… bahkan… ehm… ini rahasia ya… rumah yang saya tempati sekarang ini… adalah hasil desain saya lho… jangan bilang siapa-siapa ya… amatiran soalnya… malu sama yang arsitek beneran…

Saat saya SMU dan mulai pilah-pilih jurusan… awalnya saya ingin mewujudkan cita-cita saya itu… jadi Arsitek… jurusan yang pas… pastilah IPA… tapi… Bapak bilang “Arsitek itu pekerjaan laki-laki… masuk IPS saja, trus lanjut ke ekonomi…” dan seingat saya tak ada perasaan berat saat saya mulai banting stir dan mendesain ulang masa depan saya…

Setahun berjalan… saya kembali dihadapkan pada pilihan… Universitas mana yang akan saya jadikan almamater??? saya di terima di 2 PTN melalui jalur PMKA… UNJ di jurusan pendidikan Dunia Usaha… dan Unila Jurusan Akuntansi… kembali Bapak berperan sebagai decession maker… “di Unila saja… biar jadi akuntan”… sejujurnya… saya ingin mengikuti jejak uni… kuliah di luar Lampung… tapi… meski dengan tangis yang saya luapkan dipangkuan ibu… akhirnya saya menurut…

Itulah bedanya Ibu dengan Bapak… Ibu mendukung apapun pilihan saya… sementara Bapak menentukan pilihan bagi saya…

Sejauh ini… saya merasa bahwa… mengikuti keinginan orang tua… tak ada salahnya… saya hanyalah anak yang tak mau disalahkan atas kesalahan memilih… dan saya yakin bahwa pertimbangan orang tua yang telah banyak makan asam garam… tentulah lebih matang ketimbang pilihan kita yang masih hijau…

Sekarang saya jadi bisa memahami… bahwa sebenarnya mimpi dan keinginan terbesar saya adalah membahagiakan mereka… apapun jalan hidup yang saya pilih sebenarnya tidaklah penting… selama kehidupan saya itu bisa membuat mereka yang jadi perantara keberadaan saya di dunia ini… merasa beruntung memiliki saya sebagai cahaya matanya… sebagaimana saya juga merasa beruntung karena diperkenankan menjadi bagian dari hari-hari mereka…

Senangnya bisa mewujudkan keinginan orang tua… dan selamanya… saya ingin menjadi yang terbaik bagi mereka… I love u Bapak… i love u Ibu…

Orang Miskin Ga Boleh Sakit

Posted by: belikebee on: Februari 1, 2007

Rumah sakit itu menyimpan begitu banyak memori… setahun yang lalu saya begitu akrab dengan setiap sudutnya… dengan koridornya yang panjang… dengan lapangan parkirnya yang padat… jadi bernostalgia neh… 5 pekan bulak-balik setiap hari…

Banyak yang berubah… ada gedung baru yang sedang dibangun… katanya sih untuk VIP class… ada ornamen baru di sisi depan poliklinik rawat jalan… ada perluasan apotik… pokoknya banyaklah…

Tapi banyak juga yang tidak berubah… saya tetap bertemu dengan wajah-wajah tegang penuh cemas dan harap, apalagi wabah penyakit (DBD dan Flu burung) membuat rumah sakit padat, bahkan UGD juga dipakai untuk rawat inap, saya tetap bertemu dengan orang-orang yang tidak ramah… orang-orang yang pelit senyum, padahal mereka dibayar untuk jadi pelayan masyarakat, dan… orang miskin tetap tak diperlakukan sebagai manusia… miris

Saya mengantar seorang teman, Iyun… tubuhnya menggigil dengan suhu tubuh yang tak kunjung turun, akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit yang katanya rumah sakit umum daerah… artinya rumah sakit terbesar di kota kami… Prosedural… setiap pasien masuk IGD, diperiksa sana-sini, dan tes darah… sampai di sini semua aman… apalagi Iyun mengantongi Askes… yaa… dengan pemakluman di sana-sini… namanya juga cari yang gratisan… tapi masyaAllah… kami menunggu hasil labnya selama hampir 3 jam… sodara-sodara…

Sambil menungguinya, saya dan Budi sempat survey ke sesama keluarga pasien yang rata-rata anak-anak… ada yang diare, ada yang ‘calon’ DBD, ada yang demam tinggi… tapi semuanya terlihat berasal dari kalangan yang bisa membayar…

Ada yang membuat miris… seorang ibu yang baru saja melahirkan terlihat apatis… hanya dadanya yang naik-turun yang membuat saya tahu bahwa dia masih hidup… matanya tak kunjung terbuka… dan ia tak mampu merespon panggilan atau apapun… dan keluarganya sudah menunggu hasil lab tes darahnya selama 5 jam… tanpa kepastian… padahal untuk kondisi demikian… seharusnya si Ibu masuk ruangan ICU dengan alat deteksi denyut jantung yang terpasang… dan tekanan darah yang harus selalu diukur…

Usut punya usut… ternyata… si ibu itu bukanlah peserta askeskin (askes keluarga miskin)… entahlah apa keluarganya sudah membayar uang jaminan atau belum… banyangkan saya yang baru menunggu 1 jam saja rasanya sudah seharian duduk… dan sampai kami diperbolehkan pulang… si ibu sudah 5 jam menunggu… belum menerima hasil labnya… dan tidak mendapatkan treatment apapun…

Saya jadi teringat… setahun yang lalu, saat Bapak saya harus dirawat di rumah sakit yang sama, rumah sakit juga penuh… maklum pancaroba…DBD, diare, dan flu meraja lela… dan kami tak mendapatkan satu kamar layak huni yang kosong… kami yang seharusnya mendapat pelayanan Askes kelas 1… harus rela ditempatkan di kelas 2… itupun ekstra bed… ruangan ukuran 4 x 6 m dihuni 4 orang… sumpek… panas… dan sama sekali tidak nyaman… hanya saja… Bapak tetap mendapatkan perhatian yang lebih layak… boleh jadi karena kami ‘cerewet’ dan seharusnya kami memang mendapat pelayanan yang lebih baik…

Tapi… masyaAllah… di negeri ini… ternyata orang miskin tak boleh sakit… jangan harap dapat senyum… atau penjelasan yang melegakan dari para medis… siap-siap aja dapet jawaban ketus… dan prosedural yang bikin kita bolak-balik… karena tak ada SOP yang jelas yang disosialisasikan kepada keluarga pasien…

Sprai tempat tidur yang hanya diganti 1 kali sepekan… jadi kalo (maaf) kena BAB or BAK… yaaa… resiko sendiri… (saya membawa sprai ekstra u Bapak…) Belum lagi kamar mandi yang harus kita bersihkan sendiri… jangan harap ada cleaning service yang mau menengok km (boleh jadi karena gajinya yang tak sesuai dengan pekerjaannya…) bahkan sarana ibadah juga tak disediakan… masjid di tempatkan di depan… dekat paviliun dan VIP… sementara sholat di ruangan juga tak layak… jadi… lumayan capek lah… ke masjid 5 kali sehari… (semoga ada bonus pahala ya… :D )

Alhamdulillah… setelah 1 pekan di ‘camp’ pengungsian… akhirnya Bapak dapat kamar di paviliun… barulah kami bisa bernafas lega… kamar yang ber-AC… dan kamar mandi hanya di pakai sendiri…

Menurut saya… orang sakit yang dirawat disana… lama sembuhnya… bahkan mungkin muncul penyakit baru… hypertensi… hihi…

Ada lagi cerita lainnya… Bapak harus dirujuk ke RSUP Fatmawati Jakarta… 6 pekan Bapak dirawat di sana… (kapan-kapan saya akan buat juga cerita tentang Rumah sakit itu…), barangkali dia sudah punya firasat bahwa waktunya tak lama lagi… beliau ngotot minta pulang ke Lampung…”Bapak ga mau mati di Jakarta….” begitu katanya… sementara dia sangat tergantung pada oksigen… kegagalan operasi biopsi cancer dan pemasakan pen di tulang punggungnya… berdampak pada paru-parunya… jadi… Bapak masuk rumah sakit lagi… dan… guest what??? tak ada cadangan tabung oksigen yang disediakan rumah sakit kecuali bagi pasien super VVIP yang biaya rawat inapnya semalam Rp 750rb… so?? kami yang sudah benar-benar habis-habisan… lumayan kebingungan… jadilah Bapak menginap semalam di kamar yang menyediakan fasilitas terbaik di rumah sakit itu…

Ya Allah… orang miskin memang tak boleh sakit…

Kapan ya… pemerintah memberi perlakuan yang adil bagi setiap warga negara… kadang saya berfikir… apa mereka yang berada di ‘atas’ sana… tak pernah inspeksi kebawah-bawah… atau barangkali urat ‘kemanusiaannya’ yang sudah putus? hingga jadi raja tega… membiarkan orang-orang miskin berlama-lama dalam sakitnya…

Tapi… kejadian diatas itu…hanya ada di negeri BBM kok… hehe… kalo di negara tetangga Indonesia mah… Nggak kok…

(lobi kampusku yang penuh dg mahasiswa yang sibuk melihat nilai… ada yang melompat ada yang merengut… )

day 2 day

Desember 2009
M S S R K J S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 4,041 hits

blogroll